ruangkasus625

Sarjana Aspal

In Hukum, Pendidikan on February 1, 2012 at 4:53 am

Video : 

“Jadi aku pakai jasa bikin ijazah dikarenakan perusahaanku itu, kalo bukan S1, nggak akan ada jenjang karir. Jadi aku hanya akan berada di posisi itu aja selama aku kerja. Aku tidak akan naik jabatan,” ucap Budi (nama samaran), seorang karyawan yang menggunakan ijazah palsu untuk memperoleh jabatan yang lebih tinggi dalam karirnya.

Lain lagi kisah dan motivasi dari Agus (nama samaran), yang juga pengguna ijazah palsu. Pada tahun 2003, pria berusia berkisar antara 30 sampai 33 tahun ini, mengambil studi pendidikan tinggi di suatu universitas di Bandung. Kemudian di tengah masa studinya, ia mendapat kesempatan untuk mencari pendapatan.

“Saya kerja, kuliah diabaikan.”

Waktu berlalu, tujuh tahun berselang, nilai Agus masih jauh dari mencukupi untuk lulus kuliah, masih banyak matakuliah yang belum diselesaikan. Ketika memnta perpanjangan waktu kuliah, Ketua Jurusan menyarankannya untuk daftar ulang kembali. Namun ketika hendak mendaftar ulang, ia terbentur peraturan bahwa mahasiswa baru adalah seseorang yang maksimal lulus empat tahun dari sekolah menengah, sementara dia sudah tujuh tahun meninggalkan “putih abu-abu”.

“Saya sangat kecewa dengan pernyataan ketua jurusan tersebut,” tungkasnya seraya lenyap suaranya tak lama kemudian. Sambil tertunduk dia kembali bercerita.

“Kemudian karena faktor umur, mulai tua dan faktor keluarga juga, saya memutuskan, alternatifnya saya menggunakan ijazah palsu.”

Budi dan Agus hanyalah sebagian kecil dari ribuan pengguna ijazah palsu lainnya. Bahkan dalam satu dekade belakangan tak sedikit public figure baik itu dari dunia hiburan maupun pejabat public dimana kebanyakkan dari mereka adalah kepala-kepala daerah, tersangkut dengan kasus ijazah palsu ini. Bayangkan bagaimana kualitas kepemimpinannya dapat dipertanggung jawabkan? Mungkinkah dia bisa menjalankan amanahnya bekerja untuk publik?

Mayoritas didorong motivasi untuk kepentingan pragmatis seperti, karier, prestise, jodoh, dan lain sebagainya, orang-orang tersebut mengambil jalan pintas untuk mencapai ekskalasi sosial yang disebut sarjana. Hal tersebut diamini oleh pakar pendidikan Darmaningtyas.

“Itu kan dari kepentingan pragmatis ya, untuk bekerja, untuk kenaikan pangkat, atau juga untuk prestise sosial.”

Lebih lanjut, pria yang dikenal karena kegigihannya memperjuangkan pendidikan gratis dan anti privatisasi pendidikan, mengatakan bahwa ada pihak yang mencium peluang bisnis dari keadaan itu dan digaraplah jasa “pencetak” sarjana-sarjana palsu itu.

#

UNTUK MENCARI TAHU dan mengakses jasa pembuatan ijazah palsu itu sangat mudah. Dengan hanya modal koneksi jaringan internet, masuk ke situs search engine Google, lalu ketik ijazah palsu, maka hanya dalam hitungan detik akan muncul belasan situs penyedia jasa pembuatan ijazah palsu dan pembuatan skripsi.

“Melayani jasa pembuatan ijazah palsu. No Hoax! Recommended Seller

“Butuh gelar S1? D3? Segera hubungi kami! Cepat, mudah, dan terjamin tidak ketahuan.”

“Jasa Pembuatan Ijazah Palsu. Terpercaya, terbaik, termurah, Teraman pada tahun 2011 – 2012. Hidup adalah pilihan, segera tentukan pilihanmu.”

Begitulah rupa-rupa kalimat promosi mereka yang mereka tampilkan di laman situs mereka. Tidak cuma menampilkan kalimat-kalimat promosi yang kelihatannya menjanjikan serta menampilkan berbagai nomor kontak dan email, mereka juga menampilkan contoh ijazah yang disensor nama dan perguruan tingginya.

Namun dari sekian banyak situs itu, ada sebuah situs yang kemudian menarik perhatian kami, karena mereka berani menampilkan contoh ijazah tanpa sensor. Selain itu, situs itu berani menjamin terdaftar di Dikti (dinas pendidikan tinggi) dan memiliki safety advance atau hologram yang serupa dengan keluaran universitas.

#

PERKENALKAN F**** A******* (FA), dia adalah individu yang (entah sengaja dan dengan sepengetahuannya atau tanpa disengaja dan tanpa sepengetahuannya) ijazahnya berada di situs yang meyakinkan itu. Dia tercatat sebagai mahasiswa di sebuah universitas negeri di Jakarta , dari fakultas Teknik dengan Program Studi Teknik Transportasi. Berdasar pada  karena keberanian si pengelola situs yang menampilkan ijazah tanpa sensor, dan terbukanya indentitas FA, mendorong kami untuk menguak tabir pembuatan ijazah palsu ini dan menulusuri siapa FA sebenarnya.

Penjual jasa pembuatan ijazah palsu itu menolak untuk ditelpon, dia hanya mau berhubungan via pesan singkat.

“Jadi gini gue liat jasa iklan lo di internet. Itu beneran aman? Gue tertarik nih,” ujar salah satu reporter penyidikkan kami mengirimkan pesan singkat ke nomor yang tertera di laman situs pembuat ijazah palsu itu.

“Maaf anda berbicara dengan orang tua jadi jangan menggunakan bahasa LO-GUE. Gunakan bahasa yang sopan jika anda memang memiliki intelektual yang tinggi,” jawabnya.

Mengejutkan! Sungguh mengejutkan balasan dari si pembuat jasa itu. Jawaban, “… gunakan bahasa sopan jika anda memang memiliki intelektual yang tinggi” sungguh jauh dari dugaan dan perkiraan.

“Oh maaf, saya kira anda anak muda. Jadi bagaimana Pak / Bu ijazahnya pasti benar dan aman terdaftar?”

“Aman dan terdaftar”

“Kalau saya ingin ijazah D3 dari universitas “X”, tapi tidak pernah kuliah disana, apa saya bisa terdaftar sebagai mahasiswa dan alumni? Untuk jaga-jaga kalau ijazah saya dicek ketika saya melamar kerja.”

“Bisa, insya Allah pasti aman dan terdaftar. Tidak ada masalah di kemudian hari tentang legalitas.”

“Apakah saya masih harus membuat tugas akhir untuk arsip di universitas “X”? supaya tidak ada kecurigaan?”

“Tidak perlu semua sudah diatur oleh rekanan sehingga dipastikan aman.”

“Jadi bagaimana prosedurnya kalau saya mau buat? Dokumen apa saja yang harus saya serahkan? Bagaimana cara saya menyerahkannya?”

“ Ijazah apa yang anda inginkan?”

“D3 teknik transportasi universitas “X””

Percakapan yang panjang itu berakhir usai sang penjual jasa pembuatan ijazah itu memberikan rincian mengenai tarif, syarat, cara pengiriman dokumen, dan cara pembayaran.

“Biaya 6juta, proses : maksimal 14 hari, foto, KTP, identitas, universitas, jurusan, tahun, IPK yang diminta.”

Dari informasi tersebut, muncul hipotesis-hipotesis baru yang muncul silih berganti dan mendampingi hipotesis lama penyelidikkan kami. Hipotesis itu adalah adanya kemungkinan ada orang dalam institusi baik dari departemen pendidikan tinggi ataupun dari instansi pendidikan terkait (universitas).

#

Tim pun bergerak menuju kampus di bilangan Rawamangun itu, untuk mencari tahu siapa FA lebih dalam. Siang itu langit cerah, namun tidak secerah hasil pencarian kami tentang FA. Di universitas “X” itu kami menanyakan keabsahan FA sebagai mahasiswa universitas “X”, dengan bertanya langsung kepada pembantu rektor (purek) tiga bagian akademik. Purek bagian ini adalah pembantu rektor yang mengetuai urusan akademik di kampus tersebut, termasuk mengepalai yudisium dan urusan wisuda.

Dihampiri di kantornya yang berada di lantai tiga gedung rektorat, Purek tiga sedang tidak berada di tempat. Namun kami “dilayani” oleh salah satunya staffnya, yaitu oleh Staff Bagian Pengembangan Akademik.

A****** dengan kumis sedikit tebal di bawah hidungnya, mempersilakan kami duduk di kursi depan meja kerjanya. Setelah itu ia menyeruput sedikit air dari cangkirnya yang berwarna cokelat. Kemudian dia bertanya.

“Ada perlu apa ya, Mas dan Mbak sekalian?”

Tanpa buang waktu kami ungkapkan maksud kedatangan kami. A****** mendengarkan dengan seksama. Tampak tidak ada ekspresi kaget atau kesal ketika tahu mahasiswanya ada yang bermasalah soal ijazahnya.

“Sudah banyak Mas, Mbak kasus pemalsuan ijazah seperti ini.”

Kemudian dia meminta waktu sekitar 3 hari untuk berkoordinasi dengan tim pembuat ijazah dan Kepala Biro Akademik Administrasi dan Keuangan (BAAK), karena mereka pihak yang terlibat langsung dalam pembuatan ijazah itu. A****** mengatakan bahwa pihaknya ingin mengecek data-data yang ada, untuk melihat apakah betul A****** itu mahasiswa universitas “X” atau bukan.

Sambil menunggu keputusan itu, tim pun tidak patah arang. Kami beranjak ke perpustakaan untuk mencari tahu apakah nama FA ada dalam buku wisuda ataupun buku kenangan mahasiswa universitas “X” di perpustakaan. Kami pun menandangi gedung berlantai enam itu.

Di lantai teratas gedung perpustakaan itu, yang memang berisi data dan hasil tugas akhir mahasiswa itu, tim kami yang beranggotakan lima orang ini langsung menghambur ke seluruh lemari dan cabinet mencari nama FA. Pencarian keluar dengan hasil yang aneh. Nama FA ada di dalam buku wisuda namun tidak ada dalam buku tahunan. Keabsahan dia masih memerlukan bukti lain.

Menurut Utuh Perdana, salah satu mahasiswa universitas “X” yang bersedia menjadi narasumber kami, mengatakan bahwa salah satu syarat kelulusan adalah membuat tugas akhir. Nama FA pun tidak ada dalam daftar tugas akhir dalam database komputer perpustakaan itu.

Tiga hari kemudiaan tim kembali menyambangi gedung rektorat, untuk memenuhi undang purek tiga soal penyelidikan legalitas FA sebagai lulusan universitas “X”. Kami masuk ke ruang yang sama dimana A****** mempersilakan kami duduk. Tak lama setelah itu, ada orang lain yang mengajak kita masuk ke suatu ruangan lain. Disitulah kami diperkenalkan dengan S****** sebagai Kepala Biro Akademik Administrasi Keuangan yang juga menjabat sebagai kepala tim pembuat ijazah.

Dia mengatakan sudah mengecek FA di bagian BAAK kampus tersebut, dan memang benar di tercatat sebagai mahasiswa universitas “X” dari fakultas teknik jurusan transportasi, ijazahnya ada dan resmi. Menurut peraturan, dokumen-dokumen pencatatan kelulusan itu seharusnya dimiliki oleh tiga pihak, si wisudawan, fakultas dan universitas. Namun dia enggan menunjukkan kepada kami tentang keberadaan salinan dokumen seperti ijazah hasil skripsi yang dimiliki universitas.

Dia pun menyangkal segala kemungkinan bahwa ijazah garapan timnya bisa dipalsukan karena ada berbagai macam pelindung tambahan untuk menjaga.

Kembali lagi ke FA, menemukan kontaknya di dalam buku wisuda, satu-satunya bukti tertulis yang tim dapatkan yang mengesahkan bahwa dia adalah mahasiswa universitas “X”. Lagi-lagi ditemukan kejanggalan pada mahasiswa D3 tranpsortasi tersebut. Tidak ada alamat di dalam kolom FA di buku tersebut. Tak patah arang, tim mencoba menghubungi ke nomor telepon yang tertera. Namun setelah dicoba dihubungi, nomor itu tidak lagi aktif.

Lalu tim mempunyai ide untuk mencoba menghubungi teman-teman seangkatan FA yang nama dan nomor teleponnya tertera di buku tersebut. Dari sekitar lima orang yang dihubungi, tiga di antaranya mereka nomornya tidak lagi aktif. EN, salah satu mahasiswa yang namanya tertera sebagai teman satu angkatan wisuda dengan FA, mengaku tidak tahu dan tidak mengenalnya. Salah seorang dari lima nama yang kami hubungi mengaku mengenal FA, namun dia sangat sibuk, dan sulit ditemui.

Validitas bahwa FA adalah mahasiswa universitas “X” masih diragukan. Bergegas kami menuju ke depan meja komputer, mengakses internet, mencoba mencari tahu FA di database Dikti, ingin mengecek keberadaan nama FA di situs tersebut, seperti yang dijanjikan si pembuat jasa ijazah. Kami pun masuk laman situs milik Departemen Pendidikan Nasional itu. Nama, universitas, fakultas kami masukan ke dalam kolom search, dan dengan segera diproses. Lagi-lagi kami menemui “teman lama” kami dalam pencarian FA ini. Janggal, sungguh janggal, nama FA terdaftar sebagai lulusan dan mahasiswa universitas “X” dengan fakultas yang serupa.

Namun, karena posisinya sebagai kunci dari kasus ini, kami harus terus mencoba menghubunginya, meminta keterangan darinya. Apakah dia tahu ijazahnya dipakai di laman situs pembuat ijazah palsu? Atau apakah dia memang pengguna ijazah palsu? Adapun kemungkinan lain, apakah terkait dalam jejaring jasa pembuatan ijazah palsu yang ditandai dengan sukarela memasang ijazahnya di laman situs pembuatan ijazah? Atau sebenarnya adalah FA si pengelola laman situs ijazah palsu dan operator pembuatnya? Sayangnya hingga sampai laporan ini diturunkan, segala pertanyaan dan hipotesis ini belum menemukan jawabannya. FA masih belum bisa dihubungi.

#

UTUH PERDANA, salah satu narasumber kami yang merupakan mahasiswa universitas “X”, mengatakan dia pernah ditawari untuk dibuatkan skripsi dan ijazah palsu. Ditemui dan diwawancari di salah satu gazebo di salah satu sudut universitas “X”, kesaksiannya tersebut ibarat angin segar yang juga tengah berhembus kencang saat tim mewawancarainya. Meskipun sedikit membelokkan penyelidikan tim selama ini yang menguak jasa pembuatan ijazah palsu yang menyangkut FA, tapi informasi ini juga patut untuk ditelusuri, karena pada dasarnya tim ingin membuktikan adanya keberadaan jasa pembuatan ijazah palsu.

“Pembuatan ijazah palsu? Setahu gue banyak,” ujar salah satu anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) fakultas Teknik universitas “X” ini.

Kemudian dia berkilah tentang pertemuannya dengan orang yang mengaku adalah pembuat ijazah palsu.

Saat itu waktu tengah mendekati tengah malam. Utuh yang sibuk karena berbagai kegiatan di siang harinya, dan karena hanya anak indekos yang sederhana, ia tidak memiliki printer, Ia belum sempat mencetak laporan untuk tugas kuliahnya. Namun dimana tukang fotokopian atau printer yang masih buka di waktu selarut itu?

Dia pun teringat ada suatu tempat dimana tempat fotokopian dan percetakkan seperti seakan berserikat dan berkumpul. Di daerah dekat Rawamangun itu, sekumpulan tukang fotokopian berkumpul, berjejer, berseberangan, menghambur dan menjamur di daerah itu. Sekitar 500 meter di sepanjang jalan itu dikelilingi oleh tukang fotokopian itu. Pikir Utuh, pasti ada salah satu yang masih buka. Bergegas dari tempat indekosnya, dia pun segera melarikan motornya menuju daerah tersebut. Tepat seperti yang diperkirakannya, dia menemukan tukang fotokopian yang masih buka. Utuh tiba di sebuah toko fotokopian dan percetakkan. Tokonya cukup besar, ruang dengan luas sekitar empat kali empat adalah tempat mereka bekerja.

Dia pun memberikan flashdisk­-nya itu untuk di segera dikerjakan tukang. Entah karena jumlah halaman yang dicetak cukup banyak atau ingin memecahkan pekatnya keheningan tengah malam kala itu, mendadak tukang fotokopi tersebut mengajak bicara Utuh.

“Wah pusing ya mas?

“Iya gue lagi nyusun skripsi,” ujar Utuh yang memang mahasiswa tingkat akhir itu.

“Mau dibuatin ga? Gue banyak kok contoh skripsi. Di komputer gue kalo lo mau.”

“Kalo ijazah bisa ga?” kelakar Utuh.

“Oh bisa lo tinggal sebut aja.Universitas mana, Insyallah gue bikinin. Kalo skripsi sekitar tiga jutaan.”

Karena hanya ingin mencetak tugas laporan saja, Utuh meninggalkan mereka dengan mengatakan pikir-pikir dulu.

Lebih lanjut Utuh menjelaskan bahwa tukang percetakkan dan fotokopian itu hanya kedok semata saat siang hari, namun saat malam mereka bekerja membuat skripsi dan ijazah palsu.

#

PENASARAN dengan kesaksian Utuh, tim kami meminta Utuh untuk mengantarkan kami ke lokasi pembuatan ijazah palsu itu. Memang benar seperti yang diceritakannya, daerah situ dikelilingi oleh percetakkan dan fotokopian.

Namanya Agung (nama samaran), begitu ia mengenalkan dirinya. Usianya sekitar kepala dua mendekati kepala tiga. Utuh kemudian menjelaskan maksud kedatangan kami. Kami menyamarkan sebagai konsumen jasa yang seakan-akan ingin membuat ijazah. Kemudian dia mengajak kita duduk dan bernegosiasi soal cara kerja dan tarif yang berlaku.

“Kalau D3 sekitar enam juta, kalau S1 sekitar tujuh setengah juta. Kita juga melayani jasa pembuatan skripsi, dengan tarif enam ratus ribu per babnya, prosesnya gampanglah kita bisa bicarakan belakangan,” ujarnya sambil menengok kanan kiri memperhatikan keadaan. Rupa-rupanya dia awas dengan keadaan karena belum lama ini teman seprofesinya yang berlokasi bersebrangan dengan dia, digerebek polisi yang menyamar.

“Supaya mengurangi kemungkinan ketahuan, saran aku sih, kalian ngelamar kerjanya di perusahaan kecil aja, kan mereka males ngeceknya. Kalau di perusahaan besar resiko ketahuannya lumayan besar,” tungkasnya menasehati bagaimana mengurangi resiko terbongkar.

Resiko ketahuan dari profesi ini cukup besar. Pelaku akan terjerat pasal 266 KUHP tentang Pemalsuan Dokumen dengan ancaman penjara maksimal enam tahun ujar pakar hukum Agus Riyanto.

“Yang bisa terjerat itu adalah konsumennya, pihak yang mengorder ijazah tersebut. Yang kedua pihak yang memberikan kemungkinan terjadinya hal tersebut yaitu si pembuat ijazah palsu tersebut atau institusi pendidikan terkait yang memungkinkan ijazah palsu itu keluar,” ujar Agus Riyanto, pakar hukum alumni Univeristas Parahiyangan dan mengambil master hukum di University Technology of Sydney.

Usaha pembuatan ijazah palsu ini perlu segera ditindak lanjuti oleh pihak yang berwajib. Jika tidak, maka bukan tidak mungkin dalam setiap kehidupan kita terdapat sarjana-sarjana aspal yang menduduki jabatan sentral di sejumlah posisi, baik itu swasta ataupun negeri.

SINOPSIS

A.    Latar Belakang

Sudah banyak kasus ijazah palsu yang terjadi. Pelakunya tidak hanya orang biasa, tetapi juga mereka yang punya posisi sentral dalam masyarakat. Mulai dari artis sampai pejabat pemerintahan. Alasannya pun beragam. Entah untuk kenaikan jabatan maupun status pendidikan.

Yang mengherankan adalah begitu banyaknya iklan jasa pembuatan ijazah palsu yang terang-terangan beredar dalam dunia internet. Seolah negara ini menghalalkan praktek pembuatan ijazah palsu.

Darmaningtyas, pengamat pendidikan menyoroti dua hal yang mendorong maraknya jasa pembuatan ijazah palsu. Pertama, dari diri konsumen itu sendiri yang memiliki beberapa pertimbangan akan kebutuhannya terhadap ijazah palsu. Kedua, dari sisi oknum penjual ijazah palsu yang terus melakukan praktek ilegal tersebut karena banyaknya konsumen yang membutuhkan jasanya.

Inilah awal ketertarikan kami untuk melakukan penyelidikan lebih mendalam perihal praktek jual beli ijazah palsu. Penyelidikan kami awali dengan melakukan penelurusan online untuk mencari jasa pembuatan ijasah palsu. Kami menemukan banyak sekali situs yang menawarkan jasa pembuatan ijasah palsu dan kami tertarik pada salah satunya.

Iklan tersebut menjanjikan hasil ijazah palsu yang mirip dengan aslinya dan aman untuk digunakan. Aman disini maksudnya resiko konsumen menggunakan ijazah palsu tersebut sangat kecil. Dalam iklan dikatakan nama konsumen akan terdaftar di universitas yang diinginkan, Dikti, dan bahkan Kopertis. Salah satu contoh ijazah yang dilampirkan, milik FA, seorang mahasiswa D3 jurusan Teknik Transportasi Laut, lulusan tahun 2007 dari sebuah universitas negeri di Jakarta.

B.    Hipotesis

Melihat iklan dengan janji-janji yang sangat berani dan menggiurkan tersebut, kami membangun sebuah hipotesis  sebagai berikut;

Jika konsumen bukanlah mahasiswa dari universitas yang diinginkan ijazahnya, bagaimana bisa namanya terdaftar dalam daftar mahasiswa universitas tersebut? Dan bukankah yang berwenang menginput nama-nama mahasiswa yang telah lulus dan menyerahkan datanya pada pihak dikti dan kopertis adalah pihak dari universitas sendiri? Apakah mungkin praktek pembuatan ijazah palsu ini terkait erat dengan pihak-pihak internal universitas?

C. Penelusuran

Mengandalkan contoh ijazah itu sebagai sumber, kami ingin memastikan apakah FA adalah benar mahasiswa dari Universitas “X”? maka kami mencoba  mengecek nama FA dalam situs Dikti. Dalam situs itu, FA benar terdaftar sebagai mahasiswa Universitas “X”

Kami mendatangi Universitas “X” dan dengan pertolongan seorang teman, kami mendapat akses untuk masuk ke lantai 6 perpustakaan Universitas dan mengecek nama FA dalam buku kenangan. Hasilnya nihil. Namun sebagai gantinya kami menemukan nama FA dalam daftar alumni. Dalam daftar itu FA tidak mencantumkan alamat lengkap sementara semua mahasiswa lainnya mencantumkan alamat lengkap dan nomor telepon. Pengecekan berlanjut ke tugas akhir FA.  Namun kami tidak menemukan tugas akhir FA dalam arsip Universitas.

Utuh Perdana, seorang mahasiswa mengaku pernah di tawari jasa pembuatan ijazah palsu. Darinya kami mendapatkan  informasi tentang kompleks percetakan, yang biasa melakukan praktek pembuatan skripsi dan ijasah palsu.

Berangkat dari pernyataan Utuh, dua orang dari tim kami menyamar sebagai calon pembeli pergi mengunjungi kompleks percetakan yang dimaksud. Banyak informasi yang kami dapat berkaitan dengan kegiatan penjualan ijazah palsu yang dijalankannya.

Tidak ditemukan data apapun mengenai FA dari Universitas “X”, kami memutuskan untuk menghubungi FA melalui nomor telepon yang ada di daftar alumni. Tetapi tidak ada satupun nomor FA yang aktif. Akhirnya kami mencoba menghubungi teman-teman FA yang ada di daftar alumni. Salah satunya adalah EN, tetapi EN mengaku tidak pernah mengenal FA.

Selain menghubungi FA, kami menghubungi nomor yang tertera dalam web iklan ijazah palsu yang kami temukan di awal penyelidikan kami. Akan tetapi yang bersangkutan menolak untuk berbicara di telepon. Komunikasi dengannya dilakukan via SMS. Penjual ijazah palsu tersebut menjanjikan terdaftarnya nama kami di universitas. Kami juga tidak perlu membuat tugas akhir karena semua sudah diurus oleh rekanannya. Ia juga menyatakan akan memberikan formulir asli dari universitas yang kami ajukan namanya untuk ijazah kami.

Dengan pernyataan itu, titik terang akan kebenaran hipotesis kami mulai menemui titik terang.

Konfirmasi kami lakukan dengan pihak universitas terkait status FA dan keterangan dari penjual ijazah palsu yang menjamin bisa memberikan formulir asli dari universitas. Pihak universitas menolak direkamnya proses konfirmasi tersebut. Akan tetapi, pihak universitas melalui perwakilannya menyampaikan beberapa poin penting sebagai konfirmasinya atas data-data yang kami miliki.

Hingga saat ini, kami belum bisa menemukan FA. Yang jelas, maraknya jasa pembuatan ijazah palsu ini harus segera ditindaklanjuti. Selain melanggar KUHP, seperti yang disampaikan oleh pakar hukum, Agus Riyanto, tetapi juga demi kemajuan bangsa dan negara. Tentunya kita tidak ingin membayangkan bagaimana jika di setiap bidang kehidupan kita, ada sarjana-sarjana aspal (asli tapi palsu) yang memimpin.

Job Description:

No

Personal

Job Description

Result

Partner

1 Deidre Tanawin(09120110111) Editor + Director Final Video
Sound director Audio
Camera Person Visual
Script Writer Narasi
Search informasi mengenai jasa penjualan ijazah palsu Beberapa nomor telepon jasa pembuat ijazah palsu
Mencari Informasi FA ke bagian kemahasiswaan Universitas “X” Nihil

Revita

Bertemu Wistle Blower dan wawancara Informasi mengenai tempat yang menawarkan pembuatan ijazah palsu
Berdasarkan informasi Wistle Blower, Mendatangi tempat yang menawarkan pembuatan Ijazah Palsu dan menyamar sebagai calon pembeli Informasi mengenai harga ijazah dan kesulitan pembuatan, universitas yang sulit untuk ditiru ijazahnya, prosedur transaksi, nomor kontak pembuat, dan hal-hal lain terkait izajah palsu
Mencari Informasi FA (dibantu Wistle Blower) di perpustakaan Universitas “X” melalui buku kenangan, daftar alumni, dan arsip tugas akhir mahasiswa FA tidak ada dalam buku kenangan, Tugas Akhir FA tidak ditemukan, namun FA terdaftar dalam daftar alumni

Revita, Ervina, Orpha

Wawancara Ibu Kristy, ahli tata hukum dalam perundangan IT Informasi mengenai penyalahgunaan ijazah dalam iklan web

Krisna

Konfirmasi Ijazah FA ke Universitas “X” Universitas “X” menyatakan FA adalah benar mahasiswa mereka.
Menghubungi teman FA untuk memastikan keberadaan FA Mengaku mengenal FA yang pernah menjadi teman sekelasnya
Mencari informasi mengenai kemahasiswaan FA dalam situs Dikti FA terdaftar dalam situs Dikti sebagai mahasiswa Universitas “X”
Penulisan laporan Sinopsis proses investagasi tim. tulisan di upload dalam blog “Ruang625” dan print out yang di serahkan pertama kali.
2 Revita Rita Rani(09120110289) Camera Person Visual
Narator Narasi
Penulisan laporan Menginput seluruh data mengenai dokumen-dokumen yang digunakan Tim dalam proses investigasi dalam laporan tertulis dan menginput job description masing-masing personal dalam Tim
Search informasi mengenai jasa penjualan ijazah palsu Menemukan web side http://id.88db.com/Peluang-Bisnis/Percetakan-Publikasi/ad-603102/ beserta contoh ijazah FA yang di klaim sebagai ijazah palsu buatan web tersebut dan dijadikan bahan investigasi
Mencari dan menghubungi Wistle Blower Menemukan dan memastikan ketersediaan seorang teman untuk menjadi Wistle Blower dalam investigasi ini
Mencari Informasi FA ke bagian kemahasiswaan Universitas “X” Nihil

Deidre

Bertemu Wistle Blower dan wawancara Informasi mengenai tempat yang menawarkan pembuatan ijazah palsu
Berdasarkan informasi Wistle Blower, Mendatangi tempat yang menawarkan pembuatan Ijazah Palsu dan menyamar sebagai calon pembeli Informasi mengenai harga ijazah dan kesulitan pembuatan, universitas yang sulit untuk ditiru ijazahnya, prosedur transaksi, nomor kontak pembuat, dan hal-hal lain terkait izajah palsu
Mencari Informasi FA (dibantu Wistle Blower) di perpustakaan Universitas “X” melalui buku kenangan, daftar alumni, dan arsip tugas akhir mahasiswa FA tidak ada dalam buku kenangan, Tugas Akhir FA tidak ditemukan, namun FA terdaftar dalam daftar alumni

Deidre, Ervina, Orpha

Menghubungi :-      Oknum pembuat ijazah-      Menghubungi Universitas “X” untuk konfirmasi mengenai kebenaran nomor registrasi dalam contoh Ijazah FA,-       Menghubungi FA,-      Menghubungi teman FA untuk mencari informasi soal keberadaan FA Tidak mau berkomunikasi via telepon dan komunikasi akhirnya di lanjutkan via sms oleh Ervina

Deidre as a camera person

Menolak memberitahukan keabsahan nomor registrasi dan meminta kami datang langsung dengan membawa surat resmi penugasan
Nomor FA sudah tidak tersambung

Krisna as a camera person

EN mengaku tidak pernah mengenal nama FA
Wawancara dengan dua orang pengguna ijazah palsu Alasan mereka mengapa membuat ijazah palsu
3 Ervina Intan(09120110091) Camera Person Visual
Search informasi mengenai jasa penjualan ijazah palsu Beberapa nomor telepon jasa pembuat ijazah palsu
Menyamar sebagai calon pembeli ijazah palsu Nihil. Dari sekitar 4-5 toko yang didatangi semua mengaku tidak menerima jasa itu  
Mencari Informasi FA (dibantu Wistle Blower) di perpustakaan Universitas “X” melalui buku kenangan, daftar alumni, dan arsip tugas akhir mahasiswa FA tidak ada dalam buku kenangan, Tugas Akhir FA tidak ditemukan, namun FA terdaftar dalam daftar alumni

Deidre, Revita, Orpha

Wawancara ahli hukum, Bapak Agus Informasi mengenai regulasi terkait pembuatan dan penyebaran Ijazah Palsu

Krisna

Wawancara pakar pendidikan, Bapak Dharmaningtyas Informasi mengenai fenomena ijazah palsu ditelisik dari sisi pendidikan

Krisna, Orpha

Berkomunikasi dengan oknum pembuat Ijazah palsu dalam web via SMS Informasi mengenai harga, kemungkinan kemiripan ijazah bahwa blanko ijazah langsung dari universitas terkait, prosedur transaksi, dsb  
Penulisan Laporan Sinopsis dalam final report  
4 Krisna(09120110018) Camera Person Visual  
Search informasi mengenai jasa penjualan ijazah palsu Beberapa nomor telepon jasa pembuat ijazah palsu  
Wawancara ahli hukum, Bapak Agus Informasi mengenai regulasi terkait pembuatan dan penyebaran Ijazah Palsu Ervina as a camera person
Wawancara pakar pendidikan, Bapak Dharmaningtyas Informasi mengenai fenomena ijazah palsu ditelisik dari sisi pendidikan

Ervina, Orpha

Wawancara Ibu Kristy, ahli tata hukum dalam perundangan IT Informasi mengenai penyalahgunaan ijazah dalam iklan web

Deidre

Konfirmasi Ijazah FA ke Universitas “X” Universitas “X” menyatakan FA adalah benar mahasiswa mereka.
Penulisan laporan Investigasi dalam bentuk Jurnalisme Satrawi Diserahkan dalam bentuk print out  
5 Orpha Bura Tasik Lemba(09120110069) Camera Person Visual  
Search informasi mengenai jasa penjualan ijazah palsu Beberapa nomor telepon jasa pembuat ijazah palsu  
Menyamar sebagai calon pembeli ijazah palsu Nihil. Dari sekitar 5 toko yang didatangi semua mengaku tidak menerima jasa itu  
Mencari Informasi FA (dibantu Wistle Blower) di perpustakaan Universitas “X” melalui buku kenangan, daftar alumni, dan arsip tugas akhir mahasiswa FA tidak ada dalam buku kenangan, Tugas Akhir FA tidak ditemukan, namun FA terdaftar dalam daftar alumni

Deidre, Revita, Ervina

Wawancara pakar pendidikan, Bapak Dharmaningtyas Informasi mengenai fenomena ijazah palsu ditelisik dari sisi pendidikan

Krisna, Ervina

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: