ruangkasus625

Rantai Emas Penjualan Hewan Langka

In Uncategorized on February 1, 2012 at 2:59 am

FELICIA AMANDA /09120110007

FIMA MARDIANA / 09120110009

RONALD SETIADI / 09120110056

HENDI / 09120110060

ANTONIUS HERMANTO / 09120110080

INDEPTH REPORTING

 

RANTAI EMAS PENJUALAN HEWAN LANGKA

Jika polisi menemukan hewan Appendix 1 yang langka dan dilindungi oleh CITES, Rama sudah menyiapkan alibi, yaitu si Radiata sedang sakit dan harus dirawat dulu sampai sembuh.“Lagipula polisi hutan mah kalo merazia bukan benar-benar merazia kami, mereka malah ngobjekin kami. Biasaa, ‘UUD’, Ujung-Ujungnya Duit,” katanya sambil tertawa.

Dalam hidup manusia, rezeki diatur oleh Yang Maha Kuasa. Mulai dari perdagangan, menjual jasa, sampai menjual muka. Tapi tak semua manusia yang mencoba, diberikan berkah. Yang paling umum dalam mencari nafkah adalah menjual benda, baik itu hidup atau mati. Dari segala cara pernah dicoba, legal maupun ilegal, yang penting tercukupi kebutuhan sandang, pangan, papan.

Kini pernik penjualan yang disorot oleh banyak media adalah hewan langka. Dari situlah manusia mendapatkan nafkah. Namun, tahukah mereka bahwa menjual hewan yang langka dan dilindungi adalah ilegal? Bahwa jika hewan yang langka dibunuh atau sekedar dipelihara dapat mengurangi komponen ekosistem yang tertata di jagat raya ini.

Dari sinilah perjalanan kami dimulai. Perjalanan sekelompok mahasiswa jurnalistik mencari fakta, di tengah hingar-bingarnya individu yang melawan arus hukum.

11 Desember 2011, seusai perencanaan dan berbagai observasi yang kami jelajahi dari internet, perjalanan kami pun baru dimulai. Saat itu jalan yang ditempuh cukup panjang. Di Jalan Raya Pramuka, Jakarta Selatan, tepatnya di Pasar Pramuka, dari kejauhan tampak beberapa kandang hewan yang terpajang rapi berwarna-warni dengan berbagai bentuk dan pilihan. Pasar  ini menjual berbagai macam hewan dan unggas, seperti burung, ayam, dan masih banyak lagi. Tidak jauh dari pasar hewan tersebut, ada sebuah gedung kira-kira tiga lantai tingginya, gedung itu menjual berbagai jenis obat-obatan, alat peraga dan alat lainnya untuk bidang kedokteran dan kesehatan.

Pasar Pramuka memang memiliki banyak toko yang menjual hewan, namun karena terlalu banyak sampai ada kabar bahwa pasar ini juga menjual hewan yang langka atau yang dilindungi pemerintah. Hal itulah yang membuat kami untuk datang dan melakukan sedikit pembuktian terhadap apa yang selama ini beredar di masyarakat. Tepat pukul 09.00 pagi, kami berangkat menuju ke Pasar pramuka, dengan bermodalkan telepon seluler dan beberapa kamera, kami berharap akan mendapatkan suatu hal.

Namun….
Saat sampai di Pasar Pramuka, semua bayangan kami ternyata salah, di pasar itu setiap pedagangnya benar-benar menerapkan “no camera”, jadi tak ada satupun dari kami yang berani menggunakan kamera di sekitar pasar tersebut. Kami memilih untuk berpencar,  untuk menelusuri gang-gang kecil yang sedikit sempit dengan beberapa kandang burung menggantung di dalam lapak pedagang. Semua jenis burung yang berada disana sangat beragam, terlihat beberapa burung berwarna-warni seperti kenari, jarak bali, beo, dan lain-lain.

 

“Mas, nyari apa? Liat-liat dulu sini… Elang mau mas?”

Suara janggal itu sesekali terdengar di telinga, namun kami tidak langsung buta arah, tetap dengan pembawaan diri yang santai, sesekali kami melihat-lihat ke toko-toko lain. Namun “elang” tetaplah incaran utama kami. Memang tidak untuk dibeli namun hanya untuk membuktikan bahwa di pasar tersebut memang menjual hewan yang dilindungi.

Ternyata benar kata orang, penampilan harus menarik agar dapat membuat pedagang terkesima dan menawarkan sendiri barang-barang yang “rahasia” tersebut. Akhirnya kami memutuskan untuk datang kembali ke tempat yang tadi menawarkan elang, disana memang tidak terlalu mencolok, karena letaknya yang dipinggir jalan dengan kandang burung kecil di depan toko, sehingga mengalihkan perhatian bagi orang-orang yang melewatinya. Ada pula kelinci diletakkan tepat di atas kandang burung parkit.

“Burung kecilnya kalo plus kandang berapa mas?” Tawar kami.

“Emang burungnya mau berapa?”

“Ya kalo 6 biji plus kandang itungannya berapa?”

“Murah deh, mau burung hantu ada tuh mas”

“Wadeh, buat kado doang mas, kegedean itu!”

“Kagak lah, orang kecil begini” Ia membuka sebuah tirai yang menutupi kandang yang ternyata benar, kulit berwarna coklat, dengan mata belo, nampaklah seekor burung hantu kecil dengan kaki mencengkeram pijakan.

“Tadi katanya ada elang, gimana ngelatihnya mas?”

“Ya kasih makan aja, sama beli sarung tangan buat megangnya”

Berbeda dengan burung hantu, elang diletakkan secara terang-terangan, berhimpitan dengan kandang merpati, elang tersebut berdiri gagah sambil sesekali menyantap anak tikus yang sengaja ditaruh untuk disantap.

“Yauda nanti liat-liat lagi deh, jalan dulu ke dalem.”

Memang sangat mengejutkan,ternyata hewan langka seperti itu dijual dengan mudahnya di pasar ini. Kemana keberadaan aparat keamanan? Itu menjadi tanda tanya besar dalam perjalanan kami hari ini.

Toko-toko lain juga menjual hewan yang hampir sejenis, banyak jenis burung yang dijual namun ada pula reptil yang ditawarkan.Kami pun berjalan meninggalkan tempat tersebut untuk melihat-lihat ke toko lainnya. Kami  berhenti di tempat yang menjual hamster, awalnya tidak ingin melakukan “pengungkapan” namun setelah lama mengobrol dengan pemilik toko, kami mendapatkan sebuahfakta yang mengejutkan.

Dengan alasan membeli hewan untuk kado,kami berniat menanyakan harga hamster, namun penjual itu malah menawarkan seekor kuskus kepada kami.Mereka mengeluarkan kuskus dari tempat “persembunyiannya” di bawah meja dekat dengan tumpukan makanan hamster dan ikan.Sebuah kotak anyam dari bambu terdapat seekor kuskus berwarna kuning kecoklatan.

Kami sedikit memegang kuskus itu untuk menjalin interaksi dengan pedagang, sambil bertanya “Dari mana nih bang? Makannya susah?”

“Ah gampang, makan buah sama kacang-kacangan gini juga mau,” sang penjual tidak langsung menjawab asal muasal kuskus tersebut.

Lalu kami bertanya lagi,“Oh tapi kalo hawa dingin panas ga gampang mati bang?”

“Ya gak lah, mending ini daripada hamster, gampang mati hamster.”

Setelah cukup lama ngobrol, kami bertanya sekali lagi,“Emang ngambilnya darimana bang?”

 “Sumatera”

“Dianter gitu bang?”

“Iya sama orangnya, dipaketin. Mau panda juga ga? Ada nih.” Sambil membuka tirai di bawah kandang hamster ia menunjukkan panda.

Ternyata benar, ia juga menjual panda. Tak habis pikir, seekor panda yang langka, dilindungi dan tergolong hewan yang sulit hidup bila tidak di habitat aslinya, dijual disini. Kami menanyakan darimana panda itu berasal, makanannya apa, dan bagaimana cara memeliharanya.

“Ngambil dari pondok gede mas, disitu kami ngambil sama yang punya. Pokoknya kalo mau melihara, bikin sertifikat dulu, nanti dibantu deh.”

Fakta baru menunjukkan bahwa kepemilikan hewan ini dianggap sah apabila memiliki sertifikat kepemilikan. Sertifikat itu pun dibuat langsung oleh aparat penegak hukum. Bahkan untuk proses transaksi, delivery service dibantu oleh seorang polisi sebagai pengawal pengiriman.

Di tempat lain tapi masih di pasar Pramuka, kami bertemu denganseorangpreman yang bernama Nana.Kami dibawa ke rumah penduduksekitar. Jelas kami heran kenapa kami dibawa ke rumah penduduk. Nana menjelaskan tidak semua binatang dijual di toko sekitar pasar Pramuka, melainkan ada beberapa binatang yang dijual di rumah penduduk. Mereka beralasan binatang yang dijual di rumah penduduk sengaja untuk menghindari razia dari pihak pemerintah setempat. Tidak jauh berbeda dengan perjalanan beberapa jam yang lalu kami tetap ditawarkan binatang langka asal tidak mempublikasikan kepada orang lain, seperti merekam menggunakan kamera, maupun alat yang lain.

Sebagai preman, Nana adalah orang yang menangani penjualan, distributor, hingga barang (hewan langka) sampai ke pembeli jika di pesan melalui delivery. Masalah surat perizinan kepemilikan hewan langka, Nana sebagai preman juga bisa membuatnya asalkan uang sesuai dengan kesepakatan.

Lain lagi halnya ketika keesokan harinya, 12 Desember 2012, kami menempuh perjalanan yang baru…

Di bawah langit mendung dan siraman hujan rintik yang membasahi bumi, keadaan di sekitar Jalan Kartini Raya, Jakarta Pusat, persis seperti biasanya. Jalan sempit itu banyak dilalui kendaraan bermotor maupun yang tidak. Padat, namun tidak merayap.

Toko-toko yang berjejer pun tetap seperti biasanya, menunggu datangnya pelanggan atau pun hanya sekedar orang lewat yang menyalurkan rasa penasaran mereka, atau hanya sekedar melihat-lihat. Di jalan itulah mereka menyebut kondisi mereka pasar ikan.

Memang mayoritas dari puluhan toko yang berjejer itu didominasi oleh toko penjual ikan hias. Namun tak hanya ikan, banyak hewan lain yang juga menunjukan eksistensi mereka di pasar itu, baik yang langka maupun yang tidak.

Di salah satu toko yang pertama kami masuki, 2 orang polisi berseragam coklat nampak sedang berbicara dengan si pegawai di toko hewan itu. Toko itu menjual banyak hewan, mulai dari jenis kura-kura sampai kadal. Dan semua jenis itu belum pernah kami lihat sama sekali. Ketika kami masuk ke toko itu, kedua polisi itulah yang menyambut kami, bukan si pegawai dalam toko tersebut, seolah-olah polisi-polisi itulah pemiliknya.

“Silakan, mau cari apa non?” Ucap salah seorang polisi berbadan kecil yang sedang tersenyum pada kami.

Berpura-pura sedang melihat-lihat, kami menunjuk hewan pertama yang terlihat sedang meronta-ronta di dalam akuarium kering di dekat pintu. Hewan-hewan itu memiliki cangkang persis seperti kura-kura. Ada banyak jenis kura-kura di toko ini, dan semuanya memiliki bentuk, ukuran, dan corak yang berbeda. Dan ternyata mereka memiliki nama yang berbeda pula. Nama jenis kura-kura yang pertama kami tunjuk tadi bernama Indian Star. Bentuknya kecil, ia berjalan lambat, namun terlihat sangat kokoh. Rumah atau cangkang kura-kura ini berwarna coklat tua dan memiliki corak yang begitu memikat. Mereka berjumlah enam dalam satu akuarium kering, rumah baru mereka.

“Boleh non, lihat-lihat. Semuanya langka kok, tapi tidak dilindungi. Semua binatang disini bukan berasal dari Indonesia,” tandas seorang polisi yang lain.

 

Indian Star adalah sejenis kura-kura langka yang datang ke toko ini melalui proses penangkaran yang memiliki habitat asli di gurun Afrika. Di bawah akuarium milik Indian Star terdapat sekitar lima atau enam jenis kura-kura yang lain. Yang ini lebih besar bentuknya daripada Indian Star. Mereka bernama Sulkata. Kata si penjual, kalau masih kecil seperti ini harganya hanya mencapai Rp 450 ribu saja. Bahkan si polisi pertama menawari kami Geko, sejenis kadal kecil berwarna putih bercorak yang dikurung di kotak berlubang berukuran kira-kira 30×15 cm.

Kami pun bertandang ke toko yang lain. Di sepanjang jalan Kartini Raya, memang hampir semuanya menjual ikan, tapi akhirnya kami menemukan juga yang menjual kura-kura, kali ini semua hewan yang dijual adalah kura. Kami menemukan Indian Star dan Sulkata juga di toko itu. Hanya saja Sulkata di sini memiliki ukuran yang jaug lebih besar, dan kata si penjual pun Sulkata mereka sudah memasuki usia dewasa sehingga memudahkan untuk diajak main dan dipelihara.

Seharusnya di usia seperti inilah Sulkata baru dijual untuk dipelihara. Karena kata laki-laki penjual yang bernama Rama itu, Sulkata kecil masih rentan dan lemah, jadi sulit utuk memelihara Sulkata kecil.

Rama, demikian ia disapa, adalah orang yang sangat ramah dan ingin membagikan pengetahuannya tentang hewan langka kepada siapapun yang mau mendengarnya. Ia bahkan mengeluarkan beberapa buku besar tentang habitat kura-kura dan jenis-jenis kura-kura langka di dunia yang menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Mandarin.

Rama dan seorang pelanggannya yang sedang bertandang kesitu mengeluarkan 2 ekor Sulkata yang sedang bermain di akuarium kering berisi beberapa lembar daun yang telah disobek-sobek; makanan Sulkata. Mereka menurunkan kedua Sulkata itu ke lantai dan bermain bersama kami. Sambil bermain ia juga menceritakan tentang pengalaman-pengalamannya mulai dari yang mennyenangkan sampai betemu dengan polisi hutan.

Katanya, jika polisi merazia tokonya dan menemukan ada Radiata (hewan Appendix 1 yang langka dan dilindungi oleh CITES), Rama sudah menyiapkan alibi, yaitu si Radiata sedang sakit dan harus dirawat dulu sampai sembuh. Dan Radiata yang sedang bertengger di akuarium sebelah Sulkata itu memang tidak kelihatan bersemangat. Ia hanya diam saja seolah sedang beristirahat, bahkan dedaunan yang ditauh di akuariumnya masih sangat banyak jika dibandingkan dengan dun yang ditaruh di akuarium hewan lain.

“Lagipula polisi hutan mah kalo merazia bukan benar-benar merazia kami, mereka malah ngobjekin kami. Biasaa, ‘uud’, ujung-ujungnya duit,” katanya sambil tertawa.

Radiata memiliki harga yang melambung tinggi diatas teman-temannya sejenis kura-kura. Ia spesial karena statusnya yang Appendix 1 itu; sangat dilindungi.

Usai Pasar Kartini, perjalanan selanjutnya menuju ke kebun binatang Ragunan pada Minggu, 18 Desember 2011.Demi menambah fakta-fakta yang sudah kami dapat di Pasar Pramuka, kami berangkat ke Ragunan untuk menemui pihak yang mengerti tentang konservasi hewan langka. Kami memasuki perkantoran di Ragunan dan bertemu dengan staff bidang pariwisata, sesampainya disana kami tidak mendapat apa-apa, karena kami di tolak untuk bertemu dengan humas kebun margasatwa ragunan.

Lalu kami diberikan nomor kontak dan alamat fax untuk mengirim surat izin terlebih dahulu dan datang lagi di lain hari. Namun kami tidak hilang akal, kami berjalan ke pusat informasi dan menemui humas secara langsung dan sang humas pun mau bertemu dan bicara langsung dengan kami. Fakta yang kami dapat adalah:

“Mau apapun bentuknya, sertifikat kepemilikan itu tidak sah, karena itu hanya akal-akalan mereka saja.”

“Hewan langka tersebut tidak boleh dimiliki perseorangan.”

“Kami disini hanya menampung hewan-hewan langka, liar, yang terjaring razia di pasar penjualan hewan manapun. Namun yang melakukan penyelidikan dan penggerebekan adalah pihak BKSDA dan polisi hutan.”

Demikian pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh pihak Ragunan. Kepingan-kepingan fakta mengenai penjualan hewan langka mulai terajut satu demi satu. Dari semua pihak yang kami datangi, telah terkuak bahwa tak ada satu pihak pun yang mau merasa bertanggung jawab atas hal ini. Pihak yang perlu dikorek kemudian adalah pihak yang merazia penjual-penjual tersebut.

Namun dari faktanya, tak ada kesinambungan yang konkret antara penjual dan pihak razia. Hal ini sudah sangat jelas diutarakan oleh Rama maupun penjual lainnya, bahwa pihak razia sesungguhnya tidak peduli pada ada tidaknya penjualan hewan langka, ia juga tidak mempedulikan tatanan ekosistem dengan terampasnya habitat asli fauna-fauna langka yang hidup di alam bebas.

Maka itu, selanjutnya kami mencoba menghubungi pihak independen perlindungan hewan, WWF. Dan kami mendapatkan kepastian bahwa mereka mendukung jika pemerintah melakukan larangan penjualan hewan langka secara ilegal, namun pihak WWF menyangkal akan keterlibatan mereka dengan razia hewan langka yang biasa dilakukan. Namun, dari situ kami juga mendapatkan informasi tentang pembeli-pembeli hewan langka yang mayoritas adalah kalangan jetset di negeri ini, seperti pejabat dan kaum selebritas. Kesadaran hukum pemilik satwa langka dan terlindungi saat ini sangat rendah padahal, mereka umumnya orang-orang kaya dan para pejabat negara, yang seharusnya menyadari akan kesalahannya tersebut.

“Makanya ini sering saya dorong, harus betul-betul dihentikan. Kemudian juga memotong jaringan perdagangannya itu. Pemerintah juga harus bener-bener bekerja sama,tuturChairulSaleh, humas WWF.

Usut demi usut yang menangani razia penjualan hewan langka adalah polisi hutan atau juga Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Dan setelah penantian panjang menghubungi orang yang bisa dikontak, kami menemukan waktu yang pas. Rabu, 25 Januari 2012 kami mendatangi Badan Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta (BKSDA) untuk memastikan bahwa apakah BKSDA yang melakukan razia terhadap para pedagang yang menjual hewan-hewan langka dan untuk meminta keterangan serta informasi mengenai penjualann hewan langka yang masih marak.

Setibanya disana kami tidak bisa bertemu dengan orang yang benar-benar bisa memberikan keterangan atau konfirmasi atas pertanyaan kami. Hal itu dikarenakan, pada saat kami tiba di kantor BKSDA para pegawainya hampir sebagian besar sudah pulang dan sedang tugas keluar, ungkap salah seorang pegawai (wanita). Memang hal itu terlihat dari kantor yang sudah sepi. Alhasil kami tidak  mendapatkan informasi apa-apa.

Awalnya kami berpikir tidak mendapatkan informasi apa-apa. Namun, saat hendak keluar ada seorang wanita yang memanggil. Setelah berkenalan kami pun diajak untuk duduk –duduk sejenak. Dari obrolan singkat  itu kami sedikit mendapatkan informasi sebagai bahan investigasi kami.

Dari keterangannya, ia mengatakan penjualan hewan langka memang  masih marak tidak hanya di pasar-pasar tetapi dirumah-rumah atau pinggir jalan pun ada. Jika ditanya kenapa masih marak semua itu kembali lagi kepada para penjualnya itu sendiri, meskipun sudah ditangkap, dirazia gitu mereka tetap saja masih berjualan lagi, jadi seolah-olah mereka itu tidak kapok. Sebagai lembaga yang mengurusi hal itu kami(BKSDA) pun sudah melakukan yang terbaik. Namun, terkadang jika kami ingin melakukan razia para penjualnya seperti sudah tahu, jadi mereka sering mendapatkan bocoran. Jadi, sebelum razianya dilaksanakan sudah bocor terlebih dahulu.

Kami pun bertanyasetelahhewan-hewanitu di raziadibawakemana, beliau pun menjawab, “Biasanyakalauhasilraziahewan-hewannyaitu kami kirimkePusatPenyelamatanSatwa (PPS) TegalAlur yang merupakanLembagaKonservasimilikDepartemenKehutanan (BKSDA Jakarta) yang ada di Jl Benda Raya No. 1 Kalideres Jakarta Barat. PPS TegalAlurinisengajadibangunsebagaitempatpenampungan, perawatandanpemeliharaansertapenyelamatanberbagaijenissatwa liar hasilpenertiban (razia/sitaan), tetapiterkadangadajugamasyarakat yang datangmenyerahkanhewan-hewan yang tidaksengajamerekatemukan.”

Dikarenakanwaktu yang terbatassiIbuhanyabisamemberikaninformasisekedarnyasajakepada kami.Dan dariobrolan yang singkatitu kami cukupmendapatkaninformasi, bahwamemang BKSDA yang melakukanraziadaripasar-pasaratautempat-tempat yang memangterbuktimenjualhewan-hewanlangka. Dari sana, hewan-hewanhasilsitaan/raziamereka (BKSDA) dibawaketempatpemeliharaan PPS TegalAluruntukdirawatdandipelihara.

Dari seluruh hasil perjalanan kami, dapat disimpulkan bahwa masih terjadi penyimpangan dalam penerapan hukum yang mengatur tentang perlindungan satwa dan perdagangan satwa langka.

Pasar Pramuka, pasar Jatinegara adalah contoh pasar hewan  di Jakarta yang masih melakukan transaksi perdagangan hewan langka. Kegiatan semacam ini terlihat legal di daerah ini, karena ada beberapa pihak berwajib yang “membiarkan” kegiatan ini berlangsung. Berulang kali razia dilakukan oleh pihak berwajib, namun hal itu tidak memberikan efek jera bagi para pedagang. Malah sebaliknya, perdagangan makin besar dan terbuka. Kerja sama antara aparat dan penjahat tak dapat terelakkan lagi. Pasal-pasal telah dibuat, hukum telah dikumandangkan akan tetapi di negara kita ini masih dibutuhkan suatu sosok penegak hukum yang benar-benar “tegak”.

Bila langkah tegas tidak dilakukan, dikhawatirkan beberapa satwa langka dan binatang dilindungi cepat atau lambat akan punah. Sehingga bukan tidak mungkin, bila hal ini tidak dicegah, Indonesia akan kehilangan satwa langka.

Fauna langka tersebut nantinya akan menjadi warisan bagi anak cucu kita kelak, namun karena eksploitasi yang berlebihan dan tidak jelasnya hukum yang mengatur, maka “punah” adalah satu kata yang tepat untuk menjawab semua itu.

-FA, FM, RS, HD, AH-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: