ruangkasus625

Kembang Lio dan Ceritanya

In Uncategorized on February 1, 2012 at 7:23 am

Kembang Lio dan Ceritanya

 

Laporan mengenai penyewaan anak yang dilakukan oleh para pengemis untuk menarik rasa simpati yang lebih besar, sudah menjadi rahasia umum masyarakat. Majalah Sekar bahkan pernah melakukan investigasi mendalam mengenai kasus penyewaan anak ini. Alasan kami mengangkat kasus yang sama, adalah keinginan untuk menampilkan masalah ini dalam bentuk yang berbeda. Kami ingin memberikan gambaran audio dan visual mengenai penyewaan anak yang dilakukan oleh mereka, sebuah bukti nyata atas kasus ini.

Hipotesis awal kami adalah adanya praktek penyewaan anak yang dilakukan oleh pengemis. Kami mencoba mencari pengemis yang mengemis di pinggiran jalan di daerah Depok. Berkat informasi dari beberapa orang, akhirnya kami tiba di Kembang Lio. Kembang Lio adalah daerah yang ternyata banyak dihuni oleh pendatang dari daerah Indramayu dan sekitarnya, yang merantau hanya untuk mengemis. Biasanya sejak subuh mereka sudah berangkat. Pergi ke daerah di mana mereka biasa pengemis, ada yang mengemis di daerah Depok dan sekitarnya. Namun ada juga yang sampai ke daerah Kota, Jakarta Pusat. Karena melihat kerumunan pengemis ini, kami curiga bahwa praktek penyewaan anak juga terjadi di Kembang Lio.

Penelusuran kami pun dimulai dengan mencari orang-orang yang mengenal Kembang Lio secara baik, yakni RT dan RW setempat. Setelah berbincang-bincang dengan RT/RW, kesimpulan yang didapat adalah kami sudah melakukan kesalahan.  Membicarakan soal pengemis ataupun pekerjaan lain sejenisnya, merupakan hal yang sangat sensitif. “Yah kami sebetulnya tersinggung kalau ada yang bilang Kembang Lio itu kampung pengemis. Asal tahu aja ya, yang ngemis itu sebenarnya pendatang, sama sekali tidak ada warga asli Kembang Lio”, ujar Pak RW ketika kami menanyakan tentang pengemis yang tinggal di daerah itu.

Sebelumnya untuk mengenal Kembang Lio, kami sudah mencoba jalur resmi dengan melakukan pendekatan kepada RT/RW Kembang Lio lebih dulu. Namun karena merasa terjebak dalam prosedur yang menyulitkan, kami memutuskan melakukan pendeketan dengan jalan lain. Berkat bantuan seorang teman yang mengajar di sebuah rumah singgah di kawasan Kembang Lio, kami dikenalkan kepada Pak Yusuf dan Pak Cecep. Mereka mengenal Kembang Lio dengan baik, karena mereka sudah tinggal di sana sejak lahir.

Lalu dari Pak Yusuf dan Pak Cecep lah kami sampai pada narasumber-narasumber lainnya yang terkait dengan masalah ini. Pertamanya kami memang diperkenalkan terlebih dahulu kepada seorang pengemis yang mengemis sambil membawa anaknya ikut bersamanya. Tapi saat ditanyakan apakah ia tahu tentang praktek penyewaan anak, ia mengatakan bahwa ia sama sekali tidak tahu tentang hal itu. Setahunya, anak-anak yang di ajak ialah anak-anak mereka sendiri, sama sekali bukan anak orang lain.

Merasa belum cukup dengan hasil wawancara tersebut, kemudian kami memutuskan untuk pergi ke daerah sekitar Kembang Lio dan menanyakan info tentang pengemis yang membawa anak kepada Satpol PP yang berada di daerah setempat. Menurut informasi dari mereka, biasanya pengemis yang membawa anak, biasanya banyak terdapat di lampu merah Beji. Saat menempuh perjalanan ke sana, kami sempat bertanya-tanya kepada supir angkot yang membawa kami “itu anak-anak yang botak itu disewa 10 ribu perhari”, ujarnya antusias ketika kami menanyakan soal kemungkinan ada anak yang disewa untuk mengemis. “Lalu ibunya ikut ngemis juga atau di rumah Pak?” tanya kami lagi. “Ya ibunya di rumah. Jadi ini orang lain yang bawa”, kata supir angkot itu. Sambil mengingat-ingat, Bapak itu melanjutkan kata-katanya, “mereka tinggal di …..”. Kami pun menyebut kata “Kembang Lio”. Sang supir pun membenarkan “Ah, iya­ iya di Kembang Lio”.

Berbekal informasi dari supir itulah, kami mencoba mencari keberadaan pengemis yang dimaksud. Setelah berhasil menemukannya dan melakukan wawancara singkat, pengemis itu mengaku bahwa bayi yang ia bawa untuk mengemis adalah anaknya sendiri. Ia juga sama sekali tidak tahu tentang adanya praktek penyewaan anak. Tidak putus asa, kami mencoba mendekati dua bocah yang sedang mengemis di daerah sekitar tempat itu, mereka adalah Marni dan Yuli. Akhirnya diperoleh informasi bahwa ibunya Yuli pernah menyewakan adiknya ke tetangganya. Inilah yang membuat kami terus berpikir bahwa praktek penyewaan anak itu memang benar-benar terjadi di Kembang Lio.

Setelah mencoba mendekati beberapa orang pengemis yang membawa anak. Sampailah kami pada sosok Asih (bukan nama sebenarnya), ia mengaku menyewa anak dari tetangga-tetangganya.  Asih mengaku bahwa ia menyewa anak-anak itu dengan harga dua puluh sampai empat puluh ribu rupiah per hari. Ketika disinggung soal penggunaan CTM pada anak-anak itu, ia mengaku takut untuk melakukan hal seperti itu karena anak-anak tersebut masih merupakan anak orang-orang yang ia kenal dengan baik.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: