ruangkasus625

Wangi Cannabis Masih Semerbak (Final)

In Uncategorized on February 1, 2012 at 6:53 am

Jumat malam (6/1/2012) pukul 21.00 WIB segerombolan pria berkumpul di sebuah warung di daerah Islamic, Tangerang. Beberapa dari mereka ada yang baru pulang sekolah, kuliah, ataupun sehabis pulang kerja, bahkan ada yang sebelumnya sempat bermain futsal di lapangan sebelah.

Seorang rekan yang sempat kami kontak sudah menunggu ketika kami tiba di lokasi. Beni, sebut saja demikian, seorang pemakai menjadi penghubung kami dengan pemakai lainnya di lokasi. Sekiranya pukul 22.00 dimulai prosesi bakar ganja.

“Merapat!” ajak seorang rekan, tak berapa lama selintingan putih mulai dikeluarkan perlahan, dibakar hati-hati dan dihisap estafet keseluruh anggota yang ada di sana. Semakin malam suasana semakin ceria dan penuh tawa, giting asap ganja.

Daun yang biasa lebih akrab disebut marijuana ini adalah salah satu barang jenis narkotika yang dikategorikan sebagai golongan pertama (termasuk di dalamnya opium, kokain, heroin, dan jenis narkotika lainnya). Menurut Undang-undang No. 35 Tahun 2009, narkotika yang memiliki nama latin Canabis sativa ini dilarang baik dalam kepemilikan dan pemakaiannya, kecuali untuk urusan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, serta memiliki ijin dari pihak kementrian kesehatan (pasal 8 No 1 dan 2). Intinya marijuana bukanlah semacam obat yang bisa dikonsumsi secara bebas karena bisa menimbulakan ketergantungan.

Lampiran UU No. 35 tahun 2009

Ironisnya, Jumlah pemakai/penghisap ganja masih marak terutama dikalangan anak muda. Menurut data yang kami himpun dari hasil survey BNN (Badan Narkotika Nasional) menyebutkan pada tahun 2011 BNN mencatat 4,7 persen jumlah pelajar dan mahasiwa atau sekitar 921.000 orang, terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. 6,1 persen diantaranya pengguna narkoba dan 39 persen lainnya menggunakan ganja. Ini menunjukkan ganja masih marak diperjualbelikan secara ilegal. Maraknya peredaran daun ganja ini tentu sangat bertentangan dengan definisi undang-undang tadi yang menyatakan ganja sebagai narkotika yang berbahaya dan tidak boleh disalahgunakan.

Ada Lebih dari 50 zat yang terkandung dalam ganja, namun yang terpenting adalah delta-9 Tetra Hydro Cannabinol (THC). Kandungan THC akan tergantung pada bagian dari tumbuhan, kondisi lingkungan terutama iklim dimana tanaman ganja tumbuh. Dalam perkembangannya dengan teknologi hidroponik dan pemilihan tanaman ganja yang tepat dapat menghasilkan kandungan THC yang sangat tinggi (20-30%) (Ghodse, 2002). Kandungan THC dalam ganja menjadi pembagi bentuk ganja menjadi tiga yaitu marijuana (bhang, ganja, ganga, sinsemilla), hashish (charas, cannabis resin), danhash oil (liquid cannabis).

Ketika seseorang merokok ganja, THC dengan sangat cepat masuk aliran darah melalui paru yang mana membawa zat-zat kimia ke seluruh organ tubuh termasuk otak. Didalam otak THC terhubungan dengan tempat spesifik yangdinamakan cannabinoid receptor pada sel-sel saraf dan akhirnya mempengaruhi aktifitas sel-sel tersebut.

Disamping itu Efek psikologis dan kesehatan yang segera setelah seseorang mengkonsumsi ganjaadalah euphoria, relaksasi, perubahan persepsi, dan intensifikasi dari pengalaman pancaindra yang luar biasa, seperti makan, melihat film, dan mendengarkan musik.

Efek kognitifnya meliputi berkurangnya memori jangka pendek dan kehilangan hubungan. ketrampilan dan reaksi motoriknya juga mengalami kemunduran. Efek tidak nyaman yang biasa terjadi dari ganja adalah gelisah, panik, dan perasaan tertekan. Pengaruh ini hanya terjadi pada mereka yang belum terbiasa dengan ganja dan pasien yang diberikan THC untuk tujuan pengobatan. Bagi mereka yang telah terbiasa dengan ganja maka mereka akan menginginkan harapan-harapan yang lebih tinggi lagi dengan konsumsi yang lebih banyak (adiktif) sehingga menimbulkan efek delusi dan halusinasi.

Dari Beni kami mendapat informasi bahwa untuk mendapatkan ganja tidak harus langsung melalui bandar. Bandar sendiri memiliki kurir-kurir yang bertugas mengantar barang dalam jumlah kecil. Ini dimaksudkan, menurut Beni, untuk menjaga identitas serta keamanan bandar.

Lewat Beni, kami bertemu dengan salah satu kurir langganannya, sebut saja Juki. Kami mencoba menyamar sebagai calon pembeli yang menanyakan harga ganja saat itu. Dari Juki kami mendapat informasi harga untuk wilayah Tangerang. Ganja dijual dalam format paket. Harga satu paket adalah Rp50.000,00 dan berisi setidaknya tiga linting daun ganja kering. Adapula paket tujuh linting dijual dengan harga Rp100.000,00.  Juki mengaku tidak menjual paket kiloan sulit menyimpannya dan takuta terjaring razia. Harga satu kilogram ganja menurut pihak Polda Metro Jaya mampu menginjak tiga juta rupiah.

Tiga Linting Ganja Seharga Rp50.000,00

Baik Beni maupun Juki memberi informasi bahwa konsumen ganja di Tangerang berasal dari berbagai daerah. umumnya pelajar dan mahasiwa. Beni, pun mengatakan bahwa salah satu anggota kelompok penikmat ganja di sana (Islamic) bahkan berasal dari Jakarta.

Juki sendiri mengaku mendapat pasokan dari bandar asal Jakarta. Ketika ditanya, Juki tak mau membuka idientitas sang bandar. Ia pun mengaku kalau dia merupakan kurir kecil yang hanya mengedarkan dua sampai tiga gram yang disebarkan kepada komunitas-komunitas kecil. Transaksi ini menurutnya lebih aman karena membuat pihak kepolisian sulit melacak keberadaan ganja dalam jumlah kecil.

Dalam pasal 114 ayat 1, UU No 35 Thn 2009 seseorang kedapatan memiliki atau menyimpan ganja atau narkotika golongan 1 dalam jumlah kecil saja bisa dijerat hukuman pidana, selama minimal l  ima tahun dan denda sebesar satu miliar rupiah. Dalam pasal 2 dipertegas lagi bahwa bagi pihak yang kedapatan membawa narkotika golongan 1 lebih dari 1 kg dapat dijerat hukuman minimal 6 tahun atau seumur hidup, sampai hukuman mati. Hal ini yang menurut Pihak Polda Metro Jaya, gembong pengedar narkotika, termasuk ganja memiliki sistim jaringan yang terorganisir.

UU No 35 Thn. 2009, Pasal 114 tentang Ketentuan Pidana

Dari Polda Metro Jaya yang diwakili oleh Kanit Bagian Oprasional Bagian Narkoba Jamaludin menjelaskan, bahwa perderan ganja telah tersebar di seluruh Indonesia. Sistem penyebarannya adalah dengan cara distribusi dan dilakukan dalam sebuah jaringan. Jaringan itu dipimpin oleh bos-bos yang sampai sekarang sulit dilacak. Sulit dilacaknya bos-bos tersebut dikarenakan pandainya mereka berpindah-pindah tempat dan juga para bos itu jarang yang berdomisili di Indonesia. Mereka menetap di luar negeri. Dalam sebuah jaringan, terdapat bos, kurir, dan penyalurnya. Jaringan mereka betul-betul terorganisir.

Masih dalam penjelasan Jamaludin, ganja sekarang seharga tiga juta rupiah per kilogramnya. Dan sistem pengedarannya adalah melalui Bandar, ganja dikirim atau diedar lagi ke pengecer, dan setelah itu dibagi dalam paket-paket. Paketnya dibagi berdasarkan berat ganja, paket 50 kg, paket 100 kg, dengan harga yang berbeda-beda pula.

Jamaludin juga menjelaskan tentang bagaimana Polisi bekerja keras dalam menangkap pengedar-pengedar ganja. Polisi biasanya menangkap pemain-pemain kecil dulu. Caranya adalah mengurutkan mereka sesuai paket yang mereka jual. Polisi awalnya akan mengincar dulu mereka yang mengedarkan paket 1 kg, diteruskan ke paket 2 kg, dan nantinya akan mencapai paket 100 kg bahkan pengedar-pengedar besar yang mengedarkan paket berton-ton. Polisi tidak langsung menangkap pengedar-pengedar besar dikarenakan takut akan kehilangan pengedar-pengedar kecil. Ini merupakan cara polisi membarantas sampai ke akarnya.

Polda Metro Jaya Jakarta.Kadit Bagian Oprasional Narkoba, Jamaludin

Dari penjelasan Polda Metro Jaya maupun kurir Juki, kami menyimpulkan benang merah. Bahwa pengedaran terdiri atas alur yang panjang. Dari Bandar, ke pengecer, dari pengecer ke kurir-kurir kecil bahkan sampai kurir yang lebih kecil lagi. Ini adalah strategi guna menyulitkan proses penangakapan “ikan besar-nya”. Semakin panjang jaringannya, semakin jauh akses kepada si “ikan besar”.

Penggunaan ganja di Indonesia sendiri menurut Kasubbid Interdiksi Bandara Badan Narkotika Nasional (BNN), Suwanto, dibedakan menjadi dua, untuk penelitian sekaligus bahan obat/medis serta sebagai narkotika di mana seringkali disalahgunakan.

Dia pun mengatakan bahwa ganja produk Indonesia, terutama yang berasal dari Aceh, memiliki kandungan Tetra Hydro Cannabinol (THC) yang cukup tinggi. THC sendiri sebenarnya digunakan oleh kedokteran sebagai penghilang rasa sakit, dengan pemakaian dosis tinggi, disebut mampu mengganggu syaraf.

Swanto menyesalkan sulitnya pemberantasan peredaran ganja ini utamnya dipengaruhi oleh geografis Indonesia yang terdiri dari beribu pulau serta penduduk Indonesia yang beragam.

“Kita harus kembali lagi pada kondisi geografis Indonesia… , kemampuan aparat terbatas untuk menjangkau semuanya (pulau-pulai Indonesia) selain itu karena beragam, sebagian dari mereka tidak memiliki kesadaran hukum yang tinggi.

Adapun ketika pihak Polda Metro jaya ditanya soal masih maraknya peredaran ganja di Indonesia, Mereka tidak menjawab langsung, mereka cendrung menjawab seputar sistem serta metode penagkapan dan prestasi mereka dalam meringkus para pengedar narkoba.

Namun, terlepas dari permasalahan kekurangan tenaga kepolisian, masih maraknya peredaran ganja lebih dipengaruhi dari keinginan si pemakai. Beni sendiri yang sudah menjadi pemakai sejak kelas lima sekolah dasar mengaku berawal dari keinginan dianggap setara dengan kawan-kawan sebayanya dan selama waktu pemakaian tertentu ganja baginya kemudian menjadi barang yang adiktif dan tidak bisa ia lepas. Lebih lagi bahkan Beni menggunakan ganja sebagai suplemen inspirasi, “Gw kan anak band, kadang butuh inspirasi, tetapi gue ga bisa lepas lebih karena kan ganja ini bersifat adiktif, ya.” pungkas Beni. Sekali lagi masalah ini tentu perlu adanya kerjasama dan kooperasi dari berbagai pihak juga yang terpenting, pendidikan tentang efek serta hukuman bagi pemakainya.

Felix Jody K./09120110063

Fransdian Ricardo Purba/09120110278

Maryo Anugrah S./09120110275

Tria Maresa 09120110180

Bernadeta Dwi Utami/09120110166

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: