ruangkasus625

Menilik Fakta di Balik Piringan Ilegal

In Uncategorized on February 1, 2012 at 1:43 am

LAPORAN FINAL

Jessica Suhandra / 09120110003

Cheryl Vera Victoria / 09120110014

Benyamin Saputa Kurniawan / 09120110050

Limia De Sinta / 09120110052

 

Orang-orang sedang asyik memilih, sibuk dengan dunianya masing-masing. Tiap-tiap keping yang dikemas dan disusun rapi dalam kotak yang bertuliskan “film baru” mereka perhatikan dengan seksama. Ada pun, mereka yang langsung bertanya saat baru beberapa saat menyambangi lapak:“Yang lagi tayang di bioskop sudah pada bersih belum, mas?”,yang paling baru apa, nih?”atau subtitle-nya sudah bagus belum, mas?”

 

Segelintir kalimat di atas melukiskan suasana lapak-lapak DVD bajakan, baik di pusat perbelanjaan, pinggiran jalan, atau pun pasar. Bisnis DVD bajakan perlahan namun pasti, telah memasung para pebisnis di industri perfilman, membekukan aktivitas mereka dalam memasang ‘kail’ untuk menarik para pembeli. Tak dapat dipungkiri,  mereka para pembeli yang tak pelak menjadi sasaran akan menoleh ke kepingan bajakan yang harganya jauh lebih ‘meriah’. Analogi yang tepat untuk kondisi ini, lahan basah yang ditabur oleh benih kecurangan.

Walaupun melanggar hukum dan para petugas sudah melakukan razia pada lapak-lapak DVD ilegal tersebut, bisnis ini masih saja menjamur. Bak jamur yang tumbuh permanen di musim hujan, bisnis ini ‘membandel’ saat dibasmi. Hal ini menimbulkan dampak yang tidak pernah menjadi harapan bagi pihak-pihak tertentu. Salah satunya adalah produsen film, tak terkecuali konsumen DVD bajakan itu sendiri.

Dalam perkembangan dunia perfilman, kasus pelanggaran hak cipta telah menjadi momok yang tak dapat terelakkan lagi. Pembajakan film baik dalam maupun luar negeri seperti telah menjadi ‘pelicin’ bagi bisnis perdagangan DVD bajakan.

Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, hukuman pidana kerugian minimal merupakan salah satu pasal yang diharapkan dapat menjadi ancaman bagi para pembajak. Namun pada kenyataannya, kegiatan peggandaan kepingan CD dan DVD tersebut masih terus berlangsung.

Dikaji melalui hasil survei lembaga konsultasi Hong Kong, PERC, Indonesia berada posisi teratas dalam pelanggaran hak cipta intelektual di kawasan Asia. Menurut beberapa sumber yang menjadi referensi kami, pada tahun 2009, Polda Metro Jaya telah menangkap 67 tersangka kasus pembajakan CD, VCD, dan DVD. Dari penangkapan tersebut, ditemukan sekitar 535.628 keping film Indonesia bajakan, film barat 1.324.997 keping, dan 315.856 film porno. Software dan CD permainan juga ditemukan sebanyak 10.575 keping. Cakram piranti lunak atau software juga bisa dijual bebas dengan harga miring meski UU HAKI No.19 Tahun 2002 dengan tegas mengatur penggunaan software bajakan diancam hukuman 5 tahun dan atau denda Rp 500 juta.

Meroketnya perkembangan DVD bajakan di beberapa kawasan besar, salah satunya di ibu kota Jakarta terjadi karena penegakan hukum yang dilakukan oleh aparat terbilang mengalami kepincangan. Sampai sejauh mana langkah kami menelusur, lapak-lapak ilegal masih dengan sangat mudah kami temui.

Bisnis perdagangan DVD berjalan semakin licin ketika pemerintah harus menerapkan kebijakan larangan film Hollywood masuk ke Indonesia. Lapak mereka yang menggeluti bisnis yang menggiurkan bagi beberapa kalangan ini semakin dibanjiri oleh para konsumen. Kepingan DVD bajakan pun menjadi ‘makanan’ favorit para pecinta film.

***

Minggu, 18 Desember 2012, waktu itu sekitar pukul 17.00 tim kami melakukan investigasi awal yang dimulai dari pedagang ecer. Kami mengarungi jalan setapak di depan deretan lapak kaki lima untuk menghampiri sumber suara lagu yang terdengar dari kejauhan, hingga akhirnya kami berhenti di salah satu lapak kaki lima, lapak DVD bajakan di kawasan Bonang, Tangerang.

Keping-kepingan DVD berjejer rapi sesuai dengan tempat dan kategorinya masing-masing. Film-film terbaru dipajang di tempat yang paling depan. Beberapa orang tengah sibuk tenggelam dalam buaian DVD cacat hukum yang murah meriah itu. Ada yang memilih DVD, ada pula yang sibuk memutarkan DVD yang dipilih oleh pembeli.

Tim penelusur mencoba untuk memulai perbincangan ringan mengenai kasus ilegal ini dengan sang pedagang, Ina. Ia sempat menolak untuk diajak mengobrol lebih lanjut dengan berbagai alasan, salah satunya adalah rasa takut.

Gak mau ah, saya takut,” katanya saat dimintai keterangan oleh tim investigasi.

Namun,setelah dilakukan negosiasi, Ina bersedia untuk dijadikan sebagai narasumber kasus ini.

Pedagang yang telah menggeluti bisnis DVD bajakan selama empat tahun ini mengatakan, ia biasa mengambil ratusan keping DVD bajakan di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Wanita yang tak memberikan informasi apa-apa mengenai siapa supplier-nya ini tahu jelas bahwa bisnis DVD bajakan yang digelutinya merupakan hal yang melanggar hukum. Tetapi ia tetap melakukannya dengan alasan tuntutan ekonomi.

Yah, gimana namanya juga hidup, kan butuh duit. Kita kan orang kecil, kalau mikirin ilegal apa tidak kita gak bakalan dapet duit buat makan,” ujarnya.

Lapak DVD bajakan milik Ina berada dalam lokasi yang cukup strategis, tentu saja faktor ini membuat dagangannya laku keras. Saat ditanya mengenai razia dan aparat kepolisian, Ina bergeming sesaat, hanya senyuman yang ia lemparkan pada kami beberapa saat itu.

“Polisi? Lewat mah sering. Tapi kalau mampir tidak pernah. Lewat, yah lewat aja. Sering kok polisi lewat sini,” tambahnya sambil melayani seorang pelanggan memutarkan film yang diminatinya.

Penjualan DVD bajakan tidak hanya identik dengan kaki lima atau barang murah. Tetapi penjualan DVD bajakan juga marak di pusat-pusat perbelanjaan. Salah satunya adalah Super Mall Lippo Karawaci, Tangerang.

Suasana yang sama, transaksi penjualan DVD, penempatan DVD yang berjejer rapi di atas estalase yang hanya sedikit lebih esklusif. Uniknya, penyewaan kios-kios langsung di dalam mall dengan harga yang cukup tinggi tidak memberikan pengaruh pada harga DVD bajakan yang dijual. terjadi demikian karena para pedagang yang berjualan di mall ini bermain hingga ribuan bahkan puluhan ribu keping. Sedangkan untuk di kaki lima sendiri hanya menjual ratusan.

***

Siang itu 26 Desember 2011, terik matahari menyengat sampai ke kulit kepala, etalase- etalase berjajar di depan  ruko-ruko kawasan Gading Serpong. Dari kejauhan, terlihat seorang perempuan berperawakan Tiong Hoa paruh baya dengan pria yang nampak seperti suaminya sedang  berjaga di atas etalase dagangannya.  Tepat berada di depan toko serba ada (toserba) mereka membuka lapak terbuka yang tak tain adalah lapak kepingan DVD bajakan. Keping-kepingan DVD terbagi dalam kotak yang berisikan beberapa katagori film barat, Asia, drama seri atau pun horor. Bagi mereka kepingan-kepingan DVD tersebut merupakan sasaran empuk untuk menghasilkan uang, karena pecinta film di Indonesia semakin menggila.

Setelah terlibat dalam beberapa perbincangan, tim investigasi mulai melontarkan kembali pertanyaan seperti telusuran sebelumnya, yakni di mana mereka mengambil pasokan DVD bajakan tersebut.

“Biasanya tante ambil di Glodok, ambilnya mesti banyak,” katanya sambil mengusap bulir-bulir keringat di keningnya.

Setelah itu, Ia tidak mau menjawab lagi pertanyaan kami yang bersangkutan dengan pelanggaran hukum dan sebagainya.

Tingginya minat beli para pencinta film membuat para pedagang kepingan DVD bajakan semakin menjamur dan membanjiri beberapa kawasan. Padahal, tertera jelas dalam undang-undang bahwa pembajakan adalah perbuatan melanggar hukum di Indonesia.

Kekayaan Intelektual atau Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atau Hak Milik Intelektual adalah Hak Kekayaan Atas Intelektual (HAKI) yang digunakan untuk pertama kalinya pada tahun 1790 yang meliputi tiga unsur:  Hak, Kekayaan (Kekayaan merupakan abstraksi yang dapat dimiliki, dialihkan, dibeli, maupun dijua), dan Intelektual untuk membatasi dan melarang yang berkenaan dengan pembajakan. HAKI di Indonesia pun sudah menjadi hukum paten yang di tuangkan dalam beberapa undang-undang seperti:

• UU Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta (Lembaran Negara RI Tahun 1982 Nomor 15)

• UU Nomor 7 Tahun 1987 tentang Perubahan atas UU Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta (Lembaran Negara RI Tahun 1987 Nomor 42)

• UU Nomor 12 Tahun 1997 tentang Perubahan atas UU Nomor 6 Tahun 1982 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 7 Tahun 1987 (Lembaran Negara RI Tahun 1997 Nomor 29)

• UU Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

Yohanes Oetomo Poetra, seorang ahli hukum alumni Universitas Atma Jaya mengatakan maraknya pembajakan DVD ini dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, yaitu faktor ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan penegakan hukum. Faktor ekonomi merupakan faktor yang sangat dominan. Desakan kebutuhan ekonomi yang dialami masyarakat kerap kali memaksa masyarakat untuk melakukan pembajakan DVD. Dengan melakukan pembajakan ini mereka bisa memenuhi kebutuhannya. Selain itu juga, usaha pembajakan ini tidak mengeluarkan modal yang cukup besar.

Yang kedua adalah faktor sosial budaya yang dapat terlihat dalam masyarakat Indonesia sendiri yang konsumtif. Kebanyakan masyarakat yang membeli kaset bajakan adalah kalangan menengah kebawah. Ketiga adalah faktor pendidikan, sulitnya mencari pekerjaan dan minimnya pengenalan atas HAKI menjadikan pembajakan ini sebagai alternatif pekerjaan yang instan.

Terakhir, kurang tegasnya penegakan hukum dalam pembajakan kaset DVD ini. Selain itu aparat penegak hukum dalam melakukan operasi pemberantasan pembajakan kaset seharusnya  dilakukan secara terus menerus bukan hanya sementara. Sehingga tidak membuat jera pelaku pembajakan kaset tersebut.

Faktor-faktor ini seharusnya tidak menjadi alasan untuk melakukan pembajakan dan melanggar Undang-Undang. Maraknya penjualan DVD bajakan ini menimbulkan pertanyaan akan ketegasan hukum di negara ini.

“Bila sudah ada Undang Undang yang mengatur tetapi masih banyak terjadi pelanggaran di bidang hak cipta, itu sudah di luar batas kuasa hukum. Karena hukum hanya mengatur, melindungi, dan memberi sanksi atas pelanggaran. Tetapi, sisanya hanya kembali kepada individu masing-masing yang menjalankan hukum tersebut itu sendiri. Jika sudah tahu konsekuensi dari tindakannya tetapi seseorang tetap melanggar, berarti dia sudah siap akan akibat yang akan ditimbulkan dari tindakannya tersebut. Itu sudah berada di luar batas lingkup hukum. kembali ke mental individu per individu itu sendiri,” pungkasnya kepada tim ivestigasi.

***

 

……

“Film Mission Impossible-nya udah bagus belum mas gambarnya?”

“Masih burem boss…”

Begitulah sedikitnya percakapan antara seorang pembeli dengan pedagang DVD bajakan di bilangan Kelapa Dua, Tangerang. Sang pedagang akan menjawab dengan jujur dan santai setiap para pelanggannya melontarkan pertanyaan “Film ini sudah bagus belum gambar atau subtitle-nya?” Pedagang akan menjawab bagus dan langsung memutarkan film-nya sebagai bukti jika memang kualitas gambar sudah memuaskan. Jika pedagang melontarkan jawaban bahwa kualitas gambar masih berada dibawah standar, pembeli akan tetap asyik memilih DVD film lain yang menjadi stock di lapak tersebut.

Siang itu panas tak henti-hentinya menyengat setiap manusia yang berada di bawahnya. Namun, tak jauh dari situ nampak Ipan sedang merapikan DVD dagangannya di dalam kiosnya yang berukuran sekitar 5 x 7 meter. Kios perantau yang berasal dari kota Aceh ini berada tepat di pinggir Pasar Kelapa Dua.

Tiga kursi plastik dan sebuah mata kamera video menjadi saksi perbincangan kami. Obrolan masih terbilang kikuk, sampai pada keakraban yang terbagun, yang menciptakan obrolan menjadi blak-blakan. Dengan santai dan terbuka Ipan membingkai jawabannya. Sampai pada saat Ipan menyebutkan sebuah kata yang agaknya dapat menguak tabir spekulasi kami.

’Koordinator‘, seonggok kata yang keluar dari mulut pedagang kurus tersebut. Kata tersebut dapat disimpulkan sebagai oknum di balik layar yang membuat perdagangan DVD bajakan ini menjadi licin.

Ya ada koordinatornya di sini,“ katanya.

“Datengnya kapan, mas, koordinatornya?“

“Ya jarang, tiap bulan, lah,“ ujar pria yg memiliki warna kulit sawo matang ini.

Korlap (Koordinator lapangan) biasanya datang dan menawarkan bantuan berupa informasi. Informasi tersebut berisikan tentang waktu-waktu penggerebekan akan diselenggarakan di daerah itu.

“Kalau sudah tahu mau ada razia, saya tidak buka toko,” ujarnya.

Korlap ini biasanya mendatangi kios Ipan dan menawarkan ‘bantuan’ tersebut dengan imbalan seharga seratus ribu rupiah per informasi. Jika akan diadakan razia lagi, maka korlap ini akan kembali menghampiri Ipan dan menawarkan informasinya. Hal itu terjadi berulang-ulang tiap bulannya menurut pengakuan Ipan.

Titik terang tak pelak mulai terlihat pada celah. Ipan pun memberi penuturan lain sebagai kunci untuk kami teruskan penelusuran ini ke ‘lingkaran‘ yang lebih besar. Yaitu pusat pengambilan barang, Glodok, Jakarta. Tak hanya Ipan yang menyatakan bahwa mereka para pedagang DVD bajakan rutin mengambil barang di Glodok, Jakarta. Dua narasumber lain yang bersedia kami wawancara di kawasan Gading Serpong dan Bonang, Tangerang pun memberikan pengakuan yang sama.

***

Berdasarkan pengakuan dari beberapa penjual DVD bajakan sebelumnya, kami berinisiatif untuk mendatangi pusat grosir DVD bajakan tersebut. Glodok merupakan sebuah sentra bisnis di kawasan Jakarta Barat yang di dalamnya terdapat berbagai macam toko yang menjual barang-barang elektronik secara satuan maupun grosir.

Hari h dan jam j telah ditentukan. Pagi itu, 28 Desember 2011, tim investigasi berangkat menuju Glodok. Di sana, orang-orang sibuk menawarkan barang dagangannya, bersaing merebut pelanggan antar toko. Hal itu terjadi pada semua pedagang, tak terkecuali pedagang DVD bajakan.

Setelah menelusuri Glodok selama beberapa saat, sampailah kami pada sebuah pemandangan ironi yang di mana bahkan hukum dan pihak berwenang yang seharusnya melindungi dan mengayomi masyarakat seolah tinggal diam tak berkutik terhadap fenomena ini. Di sudut yang tak terlalu luas itu, tertata rapi rak dvd yang panjang memenuhi area toko. Semua orang di sana yang menawarkan DVD bukanlah pemilik toko alias hanya merupakan penjaga toko. Pemilik toko jelas sekali tidak ada di lokasi. Mereka diduga tidak berada di lokasi dengan alasan keamanan diri mereka dari ‘kejaran’ dan jeratan hukum yang berlaku.

Segala jenis DVD bajakan dari genre horor hingga religi, dan lokal hingga film seri Korea, DVD bajakan software maupun game bajakan dijual di sini. Harganya untuk per keping DVD film adalah Rp 5.000. Jika membeli lebih dari atau sama dengan dua belas keping, maka pembeli akan mendapatkan potongan harga.

Sulitnya mendapatkan narasumber yang mau diwawancarai membuat tim penelusur melakukan observasi langsung dengan menerjunkan seorang kru yang dibekali hidden camera. Dari observasi tersebut, ditemukan bahwa para penjual DVD bajakan di sini ternyata tidak hanya menjual DVD bajakan, namun juga menjual film porno.

“Mau cari apa, bang?” tanya seorang pria dengan baju berwarna cokelat kepada kru yang sedang melintas.

Ia menawarkan kru sebagai calon pembeli untuk mampir di kiosnya.

“Lima ribu (rupiah),” katanya menerangkan harga DVD per satuannya.

Tak lama setelah itu, pria berbaju cokelat ini menawarkan DVD porno kepada kru observasi. Namun, gelagat kecurigaan membuat segalanya menjadi runyam. Pria ini menyadari bahwa kru membawa sebuah kamera tersembunyi. Sontak, pria ini terkejut setengah marah, sambil pergi menjauhi kru kami. Ia mengancam akan melaporkan hal tersebut kepada ‘satpam’. ‘Satpam’ di sini mungkin maksudnya adalah preman penjaga di kawasan tersebut.

Demi alasan keselamatan, kami segera menarik kru dan tim penelusur langsung bergegas meninggalkan Glodok pada saat itu juga.

***

Setelah tahun baru tiba, tepatnya pada tanggal 2 Januari 2012, kami tim penelusur melanjutkan penelusuran di komplek yang sama dengan hari yang berbeda. Kami kembali ke Glodok. Dengan metode yang berbeda, kami bernegosiasi dengan orang-orang di sana untuk diajak bicara mengenai bisnis ilegal ini. Sampailah pada seorang penjaga yang mau memberikan keterangan setelah melakukan proses negosiasi yang cukup ‘alot’.

“Ya, begitulah. Di sini jarang ada razia. Tapi jangan direkam dulu (percakapan) ini,” katanya sambil setengah berbisik.

Setelah itu, pembicaraan dilakukan off the record.

….

Apri (nama samaran) mengatakan, di Glodok jarang dilakukan razia. Razia biasanya dilakukan pada saat menjelang hari-hari besar saja seperti tahun baru akhir. Ia mengaku biasanya pedagang DVD bajakan membeli DVD asli dari impor. Barang didatangkan langsung dari luar negri, terutama dari AS dan China, kemudian baru digandakan di sini.

Apri sangat berhati-hati dalam memberikan pernyataan. Kami diajak ke tempat yang tidak begitu ramai di salah satu sudut kawasan itu. Ia tidak mau sampai pedagang lainnya tahu untuk alasan keamanan. Namun demikian, Apri mengaku tidak mengetahui perihal lokasi di mana dvd digandakan.

Dari informasi yang kami terima, para pembajak hanya menggunakan CD Writer untuk dapat memudahkan pekerjaannya dalam hitungan menit. Untuk para pengganda yang tidak memiliki banyak modal mereka menggunakan beberapa komputer yang dimodifikasi.

“Biasanya orang (pengganda) pakai 14 komputer. Masing–masing dipasangi alat (DVD writer) dan dalam waktu 5 menit (penggandaan) bisa diselesaikan,” pungkasnya.

Jika dihitung, andaikan satu komputer dipasangi 5 hingga 7 DVD writer, maka dalam waktu 5 menit para pembajak bisa memproduksi sekitar 490 keping DVD bajakan. Untuk para pengganda yang memiliki cukup banyak modal mereka bisa menggunakan sebuah mesin pengganda yang tidak memerlukan computer untuk menggandakannnya. Mereka menggunakan sebuah mesin pengganda berupa CPU, beberapa CD writer, dan sebuah DVD Original sebagai master dan penggandaan bisa langsung dilakukan saat itu juga. Dengan kecepatan tinggi ratusan keping CD film, lagu, dan Software bisa didapatkan.

***

Kemudian, kami terus bertanya dalam benak. Mengapa kegiatan ilegal di Glodok yang menjadi tempat bagi hampir sebagian besar pedagang eceran dvd bajakan itu masih bisa berjalan dengan cukup aman? Ditambah lagi, tak jauh lokasi tersebut terdapat sebuah kantor polisi.

Rasa penasaran tak mampu membuat kami untuk tinggal diam. Tak jauh dari Glodok, kami berjalan lurus hingga menemukan persimpangan kota tua. Dari situ kami berjalan ke arah kiri menelusuri fly over yang kemudian membawa kami ke sebuah persimpangan besar. Dari persimpangan tersebut, kita bisa melihat sebuah bangunan di sisi kanan. Bangunan itu berbentuk rumah, berwarna cokelat khas polisi. Tentu saja kantor polisi tersebut tak luput dari sasaran rasa penasaran kami.

Polsek Tambora, begitu yang tertulis pada sebuah papan. Di dalam, kami diterima oleh seorang polisi berpangkat Bintara. Dengan ramah ia mempersilakan kami untuk duduk dan menanyakan keperluan kami. Setelah mengetahui keperluan kami, ia tidak bersedia untuk diwawancarai. Namun, kami merekam sebagian percakapan kami tanpa sepengetahuannya untuk memancing fakta-fakta yang biasanya akan mereka sembunyikan jika percakapan tersebut direkam.

Pihak Kepolisian mengatakan, mereka akan melakukan tindakan tertentu sebagai bentuk respon dari pelanggaran-pelanggaran hukum yang terjadi di Glodok. Polsek Tambora juga biasanya melakukan razia untuk periode tertentu. Razia dilakukan bersama anggota Polres.

“Biasanya menunggu perintah dari Polres baru melakukan razia,” pungkasnya.

Lalu, kami bertanya kepadanya, apakah ia mengetahui bahwa tak jauh dari lokasi tersebut terdapat sebuah ‘bandar’ DVD bajakan.

“Itu pasti kami adakan razia. Tetapi, ya, namanya juga orang cari makan. (pedagang) pasti mau hidup,” paparnya.

“Kucing-kucingan, maksudnya ada lagi ada lagi,” tambahnya lagi.

Berdasarkan hasil “wawancara” dengan pihak kepolisian, terdapat ketidaksinkronan antara apa yang menjadi tugas dan kewajiban Polisi dengan output-nya di lapangan. Pada akhirnya, setidaknya pihak kepolisian sudah mengetahui akan adanya bisnis DVD bajakan yang sangat marak di kawasan Glodok. Namun, untuk pertanyaan mengapa masih menjamur bisnis yang melawan hukum tersebut masih tumbuh subur di Glodok biarlah pribadi kita masing-masing yang menyimpulkannya. Karena, polisi sendiri mengaku tidak tahu-menahu mengapa di Glodok masih terdapat banyak penjual DVD bajakan maupun DVD porno.

Padahal, hukum yang dibuat pemerintah sangat memadai untuk digunakan sebagai dasar penangkapan atau pembubaran bisnis ilegal tersebut dari tingkat grosir hingga eceran. Tinggal bagaimana kesadaran akan hukum yang harus ditegakan juga tidak hanya menjadi kewajiban kepolisian, tetapi juga menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai konsumen.

Dokumen dalam bentuk multimedia :

Wawancara polsek tambora: http://www.zshare.net/download/989633215aa0339b/

Wawancara kelapa dua : http://www.youtube.com/watch?v=lx_4v-pK-1Q

Penelusuran Glodok : http://www.youtube.com/watch?v=_1ra_pqh0uE

Wawancara pedagang ecer sinpasa : http://www.youtube.com/watch?v=JaxBC_PMO_s

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: