ruangkasus625

Laporan Final – Bahaya Terselubung ABC Acai Berry

In Uncategorized on January 31, 2012 at 3:36 pm

Nama kelompok:

  1. Lambertus Guntoro     / 09120110020
  2. Grace Vidya                   / 09120110022
  3. Mariska Vergina           / 09120110112
  4. Irvans Lukas                 / 09120110114
  5. Ardelia                            / 09120110195

Ani tersentak membaca tulisan di layar komputernya. Tiba-tiba ia merasa mual. Tulisan yang terpampang di dalam sebuah situs forum komunitas tersebut terlalu mengejutkan. Betapa tidak, situs tersebut memuat komentar-komentar bernada kurang mengenakkan mengenai obat pelangsing yang selama sebulan terakhir ini ia konsumsi habis.

Obat pelangsing yang konon merupakan penurun berat badan yang berkhasiat luar biasa, yang bernama ABC Acai Berry.

Benarkah apa yang ia lihat di layar itu? Bahwa ABC Acai Berry adalah obat ilegal dan mengandung zat berbahaya sibutramin?

 

Semua berawal ketika teman satu gerejanya, Melati[1], menawarkan sebuah produk obat pelangsing. “Cobain deh Ni, anak-anak gue kurus semua lho pake obat ini,” begitu kata Melati. Melati tidak berbohong. Dua anak gadisnya ternyata jauh dari kelebihan berat badan. “Memang (anak-anak Melati) pada kurus-kurus. Saya lihat sendiri,” tutur Ani.

Dalam benak Ani pun mulai timbul niat untuk mengonsumsi obat tersebut. Wanita yang dengan tubuh yang cukup berisi ini sebenarnya memang sedang berpikir-pikir untuk mengurangi berat badan. Ia punya argumentasi untuk menurunkan beberapa kilo dari tubuhnya. “Rasanya memang berat tubuh nih yang menghalangi (saya) untuk punya anak,” katanya. Wanita yang sehari-harinya bekerja sebagai pengurus gereja di daerah Cengkareng, Jakarta ini memang sudah enam tahun berkeluarga, namun belum kunjung dikaruniai anak.

Masih menimbang-nimbang soal promosi Melati, tidak lama Ani bertemu seorang pendeta kenalannya. Lama tidak bertemu, Ani memperhatikan bahwa si pendeta, yang juga adalah atasannya, tampak lebih ramping dari perjumpaan terakhir. Usut punya usut, ternyata si pendeta mengonsumsi obat pelangsing. Dia berhasil menurunkan berat badan lima kilogram dengan bantuan obat bermerek sama seperti yang dijual Melati. Sederet promosi dan rekomendasi pun keluar dari mulut sang pendeta, diakhiri dengan statement pamungkas,

“Saya turun lima kilo lho, Ni… Kamu nggak nyoba?”

Keraguan di hati Ani sirna. Sebotol obat ABC Acai Berry pun ia beli dari Melati.

***

Satu botol obat ABC Acai Berry berisi 30 softgel dengan dosis harian satu kapsul. Itu artinya, butuh waktu satu bulan untuk menghabiskan satu botol tersebut. Saat mendekati batas waktu selama tiga puluh hari itulah, Ani mulai merasa gamang. Berat badannya tidak kunjung menurun, bahkan tubuhnya selalu terasa gerah. Panas. Tidak nyaman. Dan yang paling aneh, Ani tidak mengalami perubahan nafsu makan.

Sempat berpikir rasa panas tersebut wajar dan merupakan efek dari proses pembakaran lemak dalam tubuhnya, iseng-iseng Ani mencoba untuk membuktikan asumsinya itu dalam situs-situs di Internet. Saat itulah Ani tersentak. Info-info awal yang Ani dapat dari Internet memang cukup meyakinkan dan membuat ia percaya. Di Internet, dikatakan bahwa ABC Acai Berry ini berbahan bagus, dan merupakan obat luar negeri (China) yang manjur dalam membakar lemak. Dan berbagai promosi manis lainnya.

Namun, tidak hanya kata-kata manis tersebut yang ia temukan. “Setelah dilihat-lihat lagi, ada situs yang lain, bilang kalau (obat ABC Acai Berry) ini enggak bener. Ilegal. Berefek negatif buat tubuh,” tukasnya. Tidak hanya di satu situs, ia juga menemukan tuduhan mengenai keamanan obat yang selama ini dikonsumsinya di beberapa situs dan forum online lain. Melihat komentar negatif seperti itu, Ani tentu bimbang. Tetapi katanya kemudian, “Akhirnya, saya jadi lebih percaya ke testimoni negatif banyak orang mengenai efek negatifnya ketimbang manfaat positif seperti yang selama ini digembar-gemborkan…”

“Terutama, karena kata-kata orang-orang di Internet bahwa ada zat yang berbahaya di dalam obat ini…” bisik Ani.

***

Seribu kilometer lebih dari Jakarta, yaitu di Gianyar, Bali, seseorang pun mengonsumsi obat yang sama dengan Ani. Dan tebak efek apa saja yang dideritanya.

“Nafsu makan saya sangat menurun, bahkan hampir tidak ada sama sekali. Tubuh selalu berkeringat. Mulut dan bibir kering, rasa haus berlebihan. Stamina menurun, beraktivitas sedikit saja nafas sudah terengah-engah, capek, berkeringat deras. Kepala seperti melayang, emosi sulit dikontrol. Dan saya terlambat mens selama hampir 3 minggu, padahal siklus sebelumnya selalu teratur.”

Kombinasi efek samping kompleks ini dirasakan oleh wanita muda bernama Meliana. Usianya masih muda, baru genap 24 tahun. Sehari-harinya ia bekerja sebagai science staff di sebuah perusahaan pengolahan sampah organik. Dengan berat badan 55 kilogram dan tinggi badan 165 centimeter, sebenarnya berat badan Meliana termasuk ke kategori sehat menurut Body Mass Index (BMI).

Namun itu dirasakannya belum cukup. Pengaruh pergaulan ternyata cukup dominan dalam membentuk keinginannya untuk bertubuh lebih kurus lagi. “Semua teman saya bertubuh kurus, saya ingin menjadi seperti mereka.” ujarnya.

Pilihan Meliana untuk kurus pun jatuh kepada ABC Acai Berry, dimana ia termakan promosi jor-joran. “Orang-orang sering beri testimoni, katanya mereka berhasil mengurangi berat badan 2-5 kilogram per minggu.” Embel-embel “herbal”, “aman dikonsumsi”, dan cap sertifikat dari lembaga pengawas makanan lain (seperti FDA, dan konon BPOM) semakin memantapkan keinginannya untuk mencoba ABC Acai Berry.

Lewat forum kaskus.us, Meliana lalu mengontak seorang penjual obat pelangsing ber-ID kaskus “dragoonsky”. Tanpa bertatap muka sedikitpun, ia melakukan deal transaksi dan membeli satu kemasan ABC Acai Berry seharga Rp130.000,00 yang dikirim via pos.

Titik di mana Meliana benar-benar merasa tidak cocok mengonsumsi ABC Acai Berry datang  di minggu kedua. Meliana yang akrab dengan olahraga renang, sedang mencoba untuk melatih kebugarannya kembali. Namun ia hanya bisa berenang sekali saja, dan setelahnya didera kelelahan dan pusing. Matanya berkunang-kunang dan dadanya terasa sesak. Ia pun langsung menghentikan konsumsi ABC Acai Berry.

Meskipun begitu, selama mengonsumsi, ternyata Meliana memang berhasil mengurangi berat badannya. “Kalau tidak salah, saya berhasil turun 4-5 kilogram.” Namun, dengan sedemikian banyaknya efek samping yang ia alami, membuat ia urung mengonsumsi ABC Acai Berry lebih lanjut.

“Akhirnya saya berhenti dan mencari informasi lebih lanjut mengenai ABC Acai Berry ini.” kata Meliana,

“Banyak orang di internet bilang kalau obat ini ilegal dan mengandung zat berbahaya tertentu. Dan ternyata setelah saya cari-cari, benar… Saya menemukan kemiripan efek samping obat ini dengan efek zat sibutramine…”

***

Sekilas produk pelangsing tubuh itu sama seperti obat-obatan biasa. Bentuknya berupa softgel cokelat, dengan tulisan “ABC” tipis di setiap kapsulnya. Jika ditekan, kapsul itu terasa kenyal dan di dalamnya berisi cairan cokelat. Setiap tiga puluh butir obat itu dikemas dalam botol plastik bernuansa biru, yang dibungkus sebuah kotak kertas lagi di bagian luarnya. Obat ini adalah ABC Acai Berry Slimming Softgels, produk suplemen pelangsing tubuh yang konon diklaim “memiliki manfaat luar biasa”.

Namun ABC Acai Berry, di luar promosi jor-joran atas kemanjurannya, secara mengherankan sering sekali dituding sebagai obat berbahaya. Sebutlah thread-thread di kaskus.us, ataupun juga Quo Vadis Indonesia (http://quo-vadis-indonesia.blogspot.com/) yang tampaknya memang getol sekali mengupas tuntas tentang obat pelangsing satu ini. selain tak henti-hentinya memberikan himbauan, mereka pun memberikan sebuah link yang mereka yakini dapat memperkuat kecurigaan terhadap keamanan ABC Acai Berry.

Laman itu tak lain adalah http://www.lakemedelsverket.se/Alla-nyheter/NYHETER-2011/Lakemedelsverket-varnar-for-anvandning-av-bantningsprodukter-inkopta-via-internet/ yang berisi artikel dalam bahasa asing. Bahasa Swedia lebih tepatnya. Tidak heran, sebab itu adalah sebuah artikel yang berlokasi di website resmi The Medical Products Agency (MPA), otoritas nasional Swedia yang bertanggung jawab atas regulasi dan pengawasan dari perkembangan, pembuatan, dan pemasaran obat-obatan dan produk medis lainnya. Dalam bahasa Inggris, artikel bertanggal 8 Juli 2011 itu berjudul “Drug Administration warned against the use of slimming products purchased via the Internet”. Intinya kira-kira memperingatkan mengenai produk obat-obatan pelangsing yang diperdagangkan via internet. Link itu terdiri dari artikel singkat plus sebuah gambar yang berisi produk berbahaya. Kalau diamati secara teliti, barulah terlihat dalam foto tersebut bahwa ada satu produk yang familiar.

  


Gambar produk-produk mengandung sibutramin yang dilansir website The Medical Products Agency, Swedia. ABC Acai Berry terletak di kiri atas.

 

Dalam laman itu, tertulis:

De preparat som vid analys visat sig innehålla sibutramin: Acai Berry ABC, kapslar

Atau dalam Bahasa Inggris:

The preparations for the analysis proved to contain sibutramine: Acai Berry ABC, capsules.

***

Sebenarnya, apa itu sibutramine?

Sibutramine adalah Sibutramin Hidroklorida, golongan obat keras yang hanya dapat diperoleh dan hanya dapat digunakan berdasarkan resep dokter. Obat keras ini merupakan senyawa kimia yang bekerja dengan cara menghambat ambilan (reuptake) norepinefrin, serotonin, dan dopamin.

Dengan pengawasan dokter, sibutramin hidroklorida digunakan sebagai terapi tambahan dalam program penurunan berat badan pada nutritional obesity patients dengan indeks massa tubuh (Body Mass Index (BMI)) lebih dari atau sama dengan 30 kg/m2.

Dalam newsletter InfoPOM terbitan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Vol. 7, No. 4, Juli 2006, dikatakan bahwa:

“Obat ini hanya boleh digunakan pada pasien yang sebelumnya telah gagal dengan pemberian obat tunggal lain dan penggunaannya harus merupakan bagian dari pendekatan terintegrasi penurunan berat badan di bawah pengawasan dokter yang berpengalaman. Penggunaan obat ini hanya perlu dipertimbangkan jika upaya diet, olahraga, dan perubahan gaya hidup tidak berhasil.”

Sebagaimana obat lainnya, penggunaan Sibutramin bukan tanpa efek samping. Efek samping yang dapat timbul dari penggunaan sibutramin meliputi peningkatan denyut jantung, palpitasi (jantung berdebar), peningkatan tekanan darah, sakit kepala, kegelisahan, kehilangan nafsu makan, konstipasi, mulut kering, gangguan pada alat perasa, vasodilatasi, insomnia, pusing, paraaesthesia, berkeringat dan lain-lain.

Sementara itu, di negara tetangga, Australia, sibutramin telah beredar sejak Januari 2002, namun hingga saat ini komite penasehat efek samping obat Australia (ADRAC, Adverse Drug Reaction Advisory Committee) telah menerima 138 laporan yang berkaitan dengan penggunaan sibutramin dan 404 laporan efek samping.

Efek samping yang timbul bermacam-macam,mulai dari reaksi psikiatrik seperti depresi dan maniak (efek samping obat yang terjadi pada beberapa laporan kasus ini hilang setelah penghentian penggunaan sibutramin), efek samping kardiovaskular (beberapa kasus yang dilaporkan diantaranya gangguan ritme jantung, palpitasi, dan nyeri dada. Dua kasus kardiovaskular yang paling serius adalah fibrilasi dengan cardiac arrest dan infark miokardia, selain itu juga dilaporkan terjadinya 8 kasus hipertensi.) serta sindrom serotonin.


***

PT Adonai Perkasa, distributor utama ABC Acai Berry di Indonesia, punya jawaban sendiri mengenai keluhan banyak orang atas legalitas produknya. PT yang selama ini lebih dikenal sebagai perusahaan tambang tersebut berkeras bahwa produknya adalah legal. “Ya, kami memang (bergerak di bidang) tambang, tetapi juga (berbisnis) produk ini. Selama 30 tahun kami berbisnis kami sudah tahu pentingnya (suatu barang itu) legal daripada ilegal… kalau kami memang berjualan barang ilegal, kami pasti tidak akan berani ngasih alamat jelas kami,” kata Vinka Friskila, salah satu pegawai di PT Adonai Perkasa, saat dihubungi di kantor PT Adonai Perkasa di Apartemen Mediterania, Tanjung Duren, Jakarta Barat.

“Oh, (mengenai legalitas) ABC Acai Berry memang, dari BPOM memang belum keluar nomor (registrasi) nya, menyusul pada Januari 2012… lagipula kan yang penting hasil lab-nya.”

Sambil menunjukkan selembar fotokopi sertifikat pengujian ber-kop surat “BADAN POM RI” bernomor 070386107LL223 di meja, Vinka berujar, “Inilah tanda kami memenuhi syarat,” sambil menunjukkan sebaris kalimat dalam surat tersebut.

           

“Yang penting adalah hasil uji ini. Dari sini Anda bisa lihat, produk kami benar-benar mengandung buah acai yang baik untuk kulit. Juga ada kandungan aloe vera yang alami…” kata Vinka dengan nada meyakinkan.

Benarkah? Tanpa ada efek samping?

“Tanpa efek samping!” tegas Vinka dengan suara meninggi. “Acai Berry yang palsu itu barulah mengandung zat berbahaya. Seperti keluaran MGL Hongkong itu. Memang karena produk kita ini lagi booming, akhirnya jadi banyak ditiru…”

Jadi… bahaya ada pada ABC Acai Berry palsu?

Atasan Vinka, Lanny pun menegaskan hal yang sama. Sempat beberapa kali berganti kemasan, ia berdalih bahwa kemasan ABC Acai Berry sering dipalsu.

PT Adonai: “Nah, inilah ABC Acai Berry yang kami punya, sebelum ganti kemasan. Harganya tetap, Rp245.000,00 per botol. Yang ini ABC Acai Berry yang palsu, lihat bentuk dan warnanya serupa kan? Tapi ini sama sekali tidak sama.

 

“Selain lulus uji BPOM, kami juga telah lolos uji halal kok.” Katanya sambil menunjukkan sertifikat dari MUI—kali ini asli, bukan fotokopi. Suratnya terlihat asli, tapi tanda tangannya terlihat seperti hasil fotokopi dan stempelnya seperti scanning dari komputer.

Kejanggalan semakin terlihat saat sertifikat fotokopi dari BPOM dan sertifikat MUI sulit untuk diminta salinannya. Sertifikat MUI bahkan tidak boleh difoto.

“Maaf sekali itu tidak boleh difoto. Tapi kalau untuk sertifikat BPOM, kalau Anda beli 50 buah, baru kami bisa kasih surat ini. Supaya waktu ditanya sama pembeli, Anda sudah ada bukti… Oya, untuk pembelian dalam partai besar, Anda bisa mendapatkan harga spesial. Misalnya, untuk pembelian 10 buah Anda bisa dapat harga Rp170.000,00 per satuannya…”

Kalau dimiliki oleh pembeli biasa, apa surat itu akan kehilangan kesaktiannya?

***

Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) menempati bangunan yang terletak di paling depan sebelah kiri dalam kompleks Badan Pengawas Obat dan Makanan di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Unit ini merupakan unit yang dibentuk untuk melayani pengaduan dan memberikan informasi kepada masyarakat yang berkaitan dengan mutu, keamanan dan aspek legalitas produk terkait obat dan makanan.

Termasuk, misalnya, menanyakan seputar obat pelangsing ABC Acai Berry.

Yang terdengar selanjutnya adalah sebuah konfirmasi mengagetkan dari Dra. Nining Restu Kurnianingsih, staf ULPK saat dihubungi tanggal 11 Januari 2011 via telepon.

“Acai Berry!? BPOM telah menarik semua produk yang mengandung Acai Berry terhitung November 2011 lalu,”

Mengenai hasil uji yang dimiliki oleh PT Adonai pun, ia beranggapan surat itu tak bisa diandalkan. “Selama belum ada nomor registrasi, berarti proses menuju legalitasnya masih berjalan. Setelah ada nomor registrasi, barulah suatu obat bisa dikatakan sudah legal dan dapat resmi dikonsumsi.”

Pernyataan Nining sejalan dengan Pasal 2 ayat (1) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 10101MENKES/PER/XI/2008 tentang Registrasi Obat: Obat yang diedarkan di wilayah Indonesia, sebelumnya harus dilakukan registrasi untuk memperoleh Izin Edar.

Nining juga mengungkapkan, banyak orang awam berpikiran bahwa suatu produk tertentu  sudah dianggap aman hanya karena sudah memiliki hasil uji BPOM. “Padahal harus dicermati, item apa saja yang diuji dalam uji tersebut. Bisa saja uji yang dimaksud hanya untuk membuktikan kandungan gizi saja seperti protein, vitamin, dst… bukan pengujian kandungan bahan berbahaya,“ ujarnya.

Reskika, apoteker dari ULPK BPOM pun mengungkapkan hal senada. “Produk Acai Berry ini benar telah ditarik karena dua alasan. Yang pertama, tidak memiliki izin edar, dan yang kedua, obat itu mengandung bahan kimia obat yang berbahaya. Acai Berry telah terbukti mengandung sibutramin, yang semestinya harus diberikan oleh resep dokter dan tidak boleh ada di dalam suplemen dan herbal,”

Surat bukti pengujian yang dimiliki PT Adonai Perkasa pun dinilai Reskika bukanlah bukti legalitas yang valid. “Hasil pengujian ini hanyalah tahap pertama dari proses mendapatkan izin edar. Masih ada tahap pengujian yang harus dipenuhi untuk menjadi legal.”

“Jadi, produk ini seharusnya tidak boleh beredar (ilegal),” tandasnya.

BPOM sendiri rupanya telah mengeluarkan public warning mengenai penarikan Acai Berry ini, yang tercantum dalam siaran pers mengenai Operasi Pangea IV “Berantas Obat Ilegal Online” bertanggal 5 Oktober 2011. Hasil Operasi nya berupa daftar sederetan produk sitaan.

 

***

“Nama produk: Acai Berry. Pelanggaran: Tanpa izin edar.”

Melihat tulisan tersebut, Meliana menghela nafas. Ia teringat beberapa teman-temannya, yang masih mengonsumsi ABC Acai Berry.

“Dari saat saya terkena efek samping ABC Acai Berry pun, sebenarnya saya sudah memberi tahu teman-teman saya yang juga pengguna obat ini. Namun beberapa dari mereka tetap saja menggunakan obat ini walaupun sudah tahu bahayanya.”

Meliana pun memiliki spekulasinya sendiri mengenai produk ini, “Jangan-jangan sebenarnya orang sudah mengetahui dampak obat ini. Namun keinginan untuk mendapatkan hasil yang instan lebih kuat daripada kepedulian akan efek sampingnya… Belum lagi obat ini tergolong murah, dibandingkan biaya konsultasi ke ahli gizi dan obat-obatan pelangsing terdaftar.”

***

“Nama produk: Acai Berry. Pelanggaran: Tanpa izin edar.”

Ani kaget sekali mendapati siaran pers dari BPOM tersebut. Kegamangannya terbukti sudah.

“Berbahaya sekali…” ujarnya pelan.

“Padahal, biasanya sebelum saya membeli makanan saya selalu rajin mengecek kemasannya, mencari-cari izin BPOMnya. Namun untuk kasus ini saya telah terlanjur percaya pada teman saya sehingga lalai memeriksa izinnya.” Katanya dengan nada pelan. “Ini pelajaran. Lain kali saya akan lebih berhati-hati dan rajin mengecek izin. Tidak akan lagi saya percaya begitu saja omongan teman. Saya takut efeknya jadi jangka panjang dan merugikan.”

Beberapa hari kemudian ia bertemu Melati. Temannya itu tentu saja kembali menawarkan produk yang sama. “Ni, kamu nggak beli lagi?”

Selain Melati, orang-orang lain pun getol menawarkannya Acai Berry pula. “Masih banyak orang yang bilang ke saya, ‘Ayo bu… coba Acai Berry…’ tapi semuanya saya tolak. Saya mau kembali ke diet normal.”

Kini, Ani beralih ke program pengaturan pola makan dan olahraga.

***


[1] Melati: bukan nama sebenarnya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: